<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Coretan dari Balik Kelambu...</title>
	<atom:link href="http://coretankelambu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://coretankelambu.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Nov 2009 16:45:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>su</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='coretankelambu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/51c294dd8b58f1fbd2fcac6d011b2a90?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Coretan dari Balik Kelambu...</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Ajang Uji Nyawa: Donor Darah</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/11/26/ajang-uji-nyawa-donor-darah/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/11/26/ajang-uji-nyawa-donor-darah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 16:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/?p=1220</guid>
		<description><![CDATA[Herannya, ketika itu saya sempat berpikir tentang kematian. "Lucu juga yah kalau ada orang yang mati gara-gara donor darah," pikir saya spontan waktu itu. Saya juga masih sempat-sempatnya mentertawakan lelucon itu sembari menahan sakit yang benar-benar membuat saya tak berdaya.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1220&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa minggu yang lalu, saya ditantang oleh seorang kawan untuk donor darah. Sebuah kegiatan yang sejak lama tersugestikan menakutkan dalam hidup saya. Hal yang terjadi, saya selalu memaparkan pembenaran nilai-nilai yang seharusnya bisa saya lawan, seperti: berat badan saya kurang, tekanan darah saya rendah, atau hemoglobin saya sedikit.</p>
<p>Namun, pembenaran itu seakan-akan sirna malam itu. Ketika, secara spontan, seorang kawan mengajak saya ke kantor Palang Merah Indonesia di jalan Aceh, depan stadion Siliwangi, Bandung. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, saya ikut saja ketika kawan saya menyuruh saya mendaftarkan diri di meja pendaftaran dan melakukan beberapa tes yang harus dilalui seorang calon pendonor. Dia berbisik, &#8220;Semoga kamu selamat, Yudh. Berharap aja tesnya gagal.&#8221;</p>
<p>Sebelum diambil darahnya, seorang calon pendonor diharuskan melakukan beberapa tes kesehatan, seperti tes tekanan darah, jumlah hemoglobin, dan golongan darah. Hal ini dilakukan untuk melihat kelayakan tubuh calon pendonor melakukan kegiatan donor darah.</p>
<p>Akhirnya, setelah tes terakhir, yang tidak saya sadari bahwa itu adalah tes terakhir, saya dipersilahkan untuk mencuci tangan. Saya pikir, mencuci tangan adalah kegiatan yang harus saya lakukan sebelum ke tes berikutnya. Namun, yang saya herankan, sang kawan tidak melakukan kegiatan yang sedang saya lakukan. Ketika itu, saya sadar bahwa kawan saya tidak lolos tes kesehatan. Sebaliknya, saya lolos tes kesehatan dan saat itu langsung dinyatakan sebagai pendonor darah.</p>
<p>Spontan, saya merasa gugup dan takut. Pasalnya, saya harus melakukan hal yang selama ini saya takutkan, donor darah. Tapi apa daya, nasi sudah jadi bubur. Tinggal diberi kecap, kerupuk, dan potongan ayam supaya menjadi lebih nikmat. Ditambah lagi, sudah jadi kebiasaan saya untuk mengakhiri apa yang saya awali. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk melakukan kegiatan donor darah.</p>
<p>Berjalan menuju tempat pembaringan, berbaring, dan menaruh lengan kiri untuk ditusuk, adalah hal yang sangat berat ketika itu. Sang eksekutor, julukan saya untuk operator pengambilan darah, langsung duduk di sebelah kiri saya. Saya benar-benar sangat amat pasrah saat itu.</p>
<p><img class="alignleft" style="margin:10px;" title="dd" src="http://lh4.ggpht.com/_5O277HnFiiY/Sw6vLlKz4jI/AAAAAAAAA6k/o_peEpRlVr4/s576/DSC04243.JPG" alt="" width="300" height="400" />Sebuah jarum, disiapkan di hadapan saya. Saya benar-benar ingin memalingkan muka dan ingin rasanya berteriak bahwa saya menyerah dan ingin berhenti. Tapi, sekali berjalan, pantang untuk berhenti. Rasa penasaran yang amat sangat, benar-benar membuat saya sulit memalingkan muka dari lengan kiri saya yang siap untuk dihujamkan jarum berukuran lebih-kurang 5 sentimeter.</p>
<p>Setelah siap, sang eksekutor memasang penghambat darah di lengan bagian atas saya. Dia juga menyuruh saya menggenggamkan telapak tangan saya agar saluran darah terlihat jelas. Sehingga dia bisa dengan mudah menentukan saluran darah mana yang bisa dijadikan jalur keluarnya darah saya. Menyeramkan memang. Tapi sekali lagi, membuat saya penasaran.</p>
<p>Sang eksekutor lalu menyemprotkan alkohol di daerah yang akan dihujam jarum. Meskipun ingin rasanya saya memalingkan muka, namun tetap saja rasa penasaran ini membuat mata saya tetap memandang daerah, yang dalam hitungan detik, akan tertancap jarum besar berukuran 5 sentimeter.</p>
<p>Tanpa pikir panjang, akhirnya jarum itu menusuk dengan mulusnya ke dalam saluran darah saya. &#8220;Ups,&#8221; bisik saya kaget. Akhirnya, dengan derasnya darah saya mengalir ke dalam labu yang ukurannya bisa memuat hingga lebih kurang setengah liter darah. Saya lupa berapa banyak darah saya yang diambil. Tapi, saya berani kira, darah saya tak akan habis hingga labu itu terisi penuh.</p>
<p>Sepanjang saya berbaring dan darah saya mengucur ke dalam labu, saya hampir tidak bisa berhenti menahan tawa dan berkelakar dengan diri saya sendiri. Bayangkan saja, sebuah hal yang dari dulu saya takuti, dengan mudahnya bisa saya lewati dan saya lakukan malam itu. Hampir saya tidak percaya bahwa saya melakukannya.</p>
<p>Pendek cerita, darah saya telah memenuhi kuota yang dibutuhkan. Jarum telah dicabut dan saya disuruh berbaring beberapa saat. Memulihkan kondisi ceritanya. Sang eksekutor pun pergi sebentar memberikan saya waktu untuk istirahat.</p>
<p>Beberapa menit kemudian, saya merasakan sesuatu yang saya benci. Nampak seperti mabuk darat. Perut saya merasa mual. Benar-benar mual. Selanjutnya kepala saya mulai berputar-putar. Pandangan saya pun mulai kabur. Berkunang-kunang. Awalnya hanya ada satu kunang-kunang. Kemudian bertambah dua kunang-kunang. Sepuluh kunang-kunang. Dalam waktu singkat, jadi seratus kunang-kunang. Dan kini banyak kunang-kunang menutupi pandangan saya.</p>
<p>Herannya, ketika itu saya sempat berpikir tentang kematian. &#8220;Lucu juga yah kalau ada orang yang mati gara-gara donor darah,&#8221; pikir saya spontan waktu itu. Saya juga masih sempat-sempatnya mentertawakan lelucon itu sembari menahan sakit yang benar-benar membuat saya tak berdaya.</p>
<p><img class="alignright" style="margin:10px;" title="dd" src="http://lh6.ggpht.com/_5O277HnFiiY/Sw6vMJLToXI/AAAAAAAAA6o/EZTSXRbidYE/s800/DSC04244.JPG" alt="" width="400" height="300" />Tak lama kemudian, eksekutor datang dengan sedikit panik. Dia menyuruh saya memejamkan mata dan membantu saya pindah tempat ke tempat tidur yang bisa dijungkir balikan. Kemudian saya disuruh membuka mata, dan dia memposisikan kaki saya lebih tinggi dibandingkan kepala saya. Fungsinya, tentu saja untuk membuat darah saya naik ke kepala. Bagaimanapun juga, donor darah membuat otak saya kekurangan darah dan oksigen.</p>
<p>Kawan saya, yang tiba-tiba sudah ada di sebelah saya, hanya tertawa geli melihat kondisi saya. Sembari memulihkan kondisi dan mencairkan suasana, saya, kawan saya, dan sang eksekutor terlibat obrolan santai dan tidak serius. Sang eksekutor mengomentari bahwa pendonor pertama kali, seharusnya tidak melakukan kegiatan donor darah pada malam hari. Selain itu, antara waktu makan dan waktu donor darah, ada jarak minimal 1 jam. Bila tidak, kondisinya akan seperti saya. Terbaring lunglai hingga hampir pingsan.</p>
<p>Sekitar 2 jam saya terbaring lemas sebelum akhirnya bisa berjalan kembali. Meskipun begitu, ada rasa penasaran untuk mencoba donor darah kembali lain waktu. Mungkin tahun depan, ketika jumlah darah saya sudah pulih dan saya siap untuk donor darah lagi.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1220/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1220&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/11/26/ajang-uji-nyawa-donor-darah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lh4.ggpht.com/_5O277HnFiiY/Sw6vLlKz4jI/AAAAAAAAA6k/o_peEpRlVr4/s576/DSC04243.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">dd</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lh6.ggpht.com/_5O277HnFiiY/Sw6vMJLToXI/AAAAAAAAA6o/EZTSXRbidYE/s800/DSC04244.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">dd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lajang Sekarang Sulit Cari Jodoh</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/11/12/lajang-sekarang-sulit-cari-jodoh/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/11/12/lajang-sekarang-sulit-cari-jodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 16:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Nulis]]></category>
		<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/2009/11/11/lajang-sekarang-sulit-cari-jodoh/</guid>
		<description><![CDATA[Menikah adalah salah satu hal yang sangat dianjurkan dalam Islam. Karena dengan menikah, seorang manusia telah memenuhi setengah dari agamanya. Meskipun begitu, para lajang sekarang lebih sulit mencari jodoh dan menikah. Alasannya, mereka terlalu banyak kriteria dalam memilih calon pasangannya.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1209&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menikah adalah salah satu hal yang sangat dianjurkan dalam Islam. Karena dengan menikah, seorang manusia telah memenuhi setengah dari agamanya. Meskipun begitu, para lajang sekarang lebih sulit mencari jodoh dan menikah. Alasannya, mereka terlalu banyak kriteria dalam memilih calon pasangannya.</p>
<p>Demikian disampaikan oleh Adriano Rusfi, konsultan SDM dan Pendidikan independen, dalam Sekolah Pra Nikah angkatan 7 pada hari Minggu, 8 Nopember 2009 lalu di ruang E Gedung Sayap Selatan (GSS) Salman ITB. Lebih lanjut, Adriano memaparkan bahwa kriteria yang diinginkan belum tentu adalah sosok yang dibutuhkan ketika menjalani kehidupan berumah tangga kelak. “Padahal bisa jadi jodohnya sudah di depan mata. Tapi dia (orang lajang yang ingin menikah) terlalu banyak (menentukan) kriteria sehingga seringkali kesulitan menemukan jodohnya,” tandas Adriano.</p>
<p>Adriano juga sempat berbagi pengalamannya dalam hal menjodohkan orang. Dahulu, dirinya begitu mudah menjodohkan orang. Cukup dengan selembar kertas kecil berisikan nama dan alamat kontak serta foto diri, cari sebentar, sudah ketemu calon pasangannya. Andaikata ada kriteria, paling banyak hanya ada 3 kriteria.</p>
<p>“Tapi sekarang, kriterianya banyak banget. Bahkan sampai ada yang membuat CV dan proposal segala,” keluh Adriano. Pasalnya, tugasnya sebagai mak comblang, menjadi lebih berat lantaran harus benar-benar selektif memilih calon pasangan. Adriano menilai, justru hal inilah yang membuat orang-orang yang ingin menikah menjadi sulit mendapatkan jodohnya.</p>
<p>Bang Aad, begitu Adriano akrab di sapa, menyarankan para lajang yang ingin menikah untuk pasrah kepada Allah atas jodoh yang akan diterimanya. Apabila ingin menentukan kriteria calon pasangannya, lanjut Adriano, cukup kriterianya adalah seseorang yang Islami. “Bila tidak puas dengan kriteria tersebut, cukup hanya Anda dan Allah saja yang tahu. Biarkan Allah memberikan (pasangan) yang terbaik untuk kita,” papar Adriano.</p>
<p>Menyoal kriteria pasangan yang cukup dikomunikasikan dengan Allah, Adriano menceritakan pengalamannya ketika menikah. Saat itu, Adriano mengusulkan kepada Allah 5 kriteria untuk calon pasangannya. “Ternyata Allah mengabulkan 4 kriteria. Dan sekarang saya bersyukur karena satu kriteria tidak dikabulkan. Allah memang selalu memberikan yang terbaik,” ungkap Adriano.</p>
<p>Selain soal kriteria, Adriano juga memaparkan banyak hal lainnya yang menyebabkan para lajang sulit menemukan jodohnya dan sulit menikah. Beberapa di antaranya adalah idealisme masa muda yang tinggi, terbuai dengan mimpi indah akan keluarga ideal, belum mengalami hidup sebenarnya (<em>the real life</em>), ekspektasi yang terlalu tinggi, sangat normatif dan syar’ie, seringkali terlalu mengutamakan ego (<em>based on i’am</em>), terlalu penuh syarat, dan terlalu rasional, ilmiah, serta terlalu matematis.</p>
<p><strong>Berdampak Konflik dan Penyimpangan Psikologis</strong></p>
<p>Dalam kuliahnya yang berlangsung selama 2 jam tersebut, Adriano juga mengingatkan untuk menghindari kriteria yang terlalu banyak dan ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap calon pasangan serta keharusan untuk memenuhi kriteria tersebut. Pasalnya, hal tersebut seringkali memicu konflik dalam rumah tangga ketika menikah nanti.</p>
<p>Lebih lanjut, Adriano menuturkan bahwa ekspektasi terhadap pasangan hanya akan menimbulkan kekecewaan pada diri sendiri. Sebaliknya, apabila seseorang menerima seutuhnya calon pasangannya karena Allah, kelak ketika menikah nanti akan menemui banyak kejutan yang mengagumkan dan membuat kita bersyukur. “Lihatlah manusia dalam perspektif yang utuh. Jangan setengah-setengah,” saran Adriano bijak.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1209/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1209&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/11/12/lajang-sekarang-sulit-cari-jodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hermawan K Dipojono: Pantang Menyerah dan Selalu Berserah kepada Tuhan</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/10/31/hermawan-k-dipojono-pantang-menyerah-dan-selalu-berserah-kepada-tuhan/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/10/31/hermawan-k-dipojono-pantang-menyerah-dan-selalu-berserah-kepada-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 23:08:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nulis]]></category>
		<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/?p=1203</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan Masjid Salman ITB, tidak lepas dari perjuangan sosok yang selalu berusaha memakmurkan masjid ini. Sikapnya yang lembut dan bersahaja, sangat disukai orang banyak. Dalam setiap kesempatan, beliau selalu mengajarkan orang-orang muda untuk pantang menyerah dan selalu berjuang serta memohon kepada Tuhan.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1203&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Perkembangan Masjid Salman ITB, tidak lepas dari perjuangan sosok yang selalu berusaha memakmurkan masjid ini. Sikapnya yang lembut dan bersahaja, sangat disukai orang banyak. Dalam setiap kesempatan, beliau selalu mengajarkan orang-orang muda untuk pantang menyerah dan selalu berjuang serta memohon kepada Tuhan.</p>
<p><img class="alignleft" style="margin:10px;" title="Hermawan K Dipojono" src="http://farm3.static.flickr.com/2523/4059597652_68260227be_o.jpg" alt="" width="201" height="300" />Adalah Hermawan Kresno Dipojono, ketua Pembina YPM Salman ITB. Pria yang akrab disapa Mas Her ini, dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 7 Februari 1956 silam. Namun, beliau dibesarkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur bernama Jember. “Saat itu, rumah saya belum memiliki listrik. Sehingga bila belajar pada malam hari, harus menggunakan lampu petromak,” kenang Hermawan ketika ditemui di sela-sela kesibukan di ruang kerjanya.</p>
<p>Sejak kecil, beliau terbiasa mengaji setiap malam dan membaca shalawat Nabi (Tiba’an) ketika malam Jumat serta membaca Yasin setiap malam Minggu. Waktu itu, rumah beliau tepat di depan sebuah masjid. Sehingga tidak sulit melakukan sholat berjamaah dan aktivitas keagamaan lainnya.</p>
<p><strong>Takjub dengan Salman</strong></p>
<p>Tahun 1974, Hermawan diterima di Teknik Fisika ITB. Sejak tahun pertamanya kuliah di ITB, dia sangat tertarik dengan masjid Salman ITB. Ketika itu, beliau begitu terpukau melihat khotib yang berkhotbah tidak menggunakan sarung dan kopiah serta bergelar profesor. Hal ini tidak biasa di Jember. “Benar-benar baru dan sesuatu yang luar biasa,” ucapnya penuh semangat.</p>
<p>Selain itu, beliau tertarik dengan banyaknya kegiatan di Salman di luar kegiatan shalat Jumat dan shalat 5 waktu. Beliau juga tertarik dengan dosen-dosen ITB yang banyak mengajarkan banyak hal tentang agama.  “Tidak terbayang itu. Dosen ITB kok bisa ngomong agama?” ujarnya keheranan.</p>
<p>Sejak saat itu, Hermawan memutuskan untuk aktif di masjid Salman ITB. Keterlibatannya di masjid Salman ITB, dimulai dengan aktif dalam program Latihan Mujahid Dakwah (LMD) yang diinisiasi oleh Bang Imad. Beliau juga semakin betah berada di masjid dan memilih menjadi panitia di LMD pada tahun-tahun berikutnya.</p>
<p><strong>Tahun-tahun Pertama Membangun Salman</strong></p>
<p>Setelah mengikuti LMD, Hermawan bersama teman-teman alumni LMD lainnya, ditugaskan menyelenggarakan kegiatan Ramadhan untuk pertama kalinya di masjid Salman. Lantaran masih belum banyak orang yang datang ke masjid, beliau bersama teman-temanya berpikir untuk melaksanakan kegiatan yang dapat menarik orang untuk mau datang ke masjid.</p>
<p>Gebrakan pertama dimulai dengan mengundang Bimbo untuk bermain di depan masjid Salman pada tahun 1975. Ketika itu, banyak orang yang berduyun-duyun datang ke masjid sehingga shalat tarawih pun langsung penuh sesak. “Sibuk sekali waktu itu, sampai-sampai kita tidak ikut shalat tarawih,” tutur Hermawan.</p>
<p>Gebrakan berikutnya, pada Ramadhan tahun 1976, beliau bersama teman-teman di Salman, bekerjasama dengan guru-guru agama SMA-SMA di Bandung, sepakat untuk mewajibkan anak-anak SMA shalat tarawih di masjid Salman. Kehebohan pun bertambah. Bukan hanya jumlah jamaah yang penuh sesak saja. Tetapi, panitia juga disibukan dengan pekerjaan membagi-bagikan struk tanda bukti kehadiran untuk anak sekolah.</p>
<p>Pada tahun 1977, Hermawan dan teman-teman panitia Ramadhan Salman juga menyelenggarakan fashion show. Hebohnya, kegiatan ini dilakukan bukan di halaman masjid. Tetapi di ruangan utama masjid Salman ITB.</p>
<p>Tidak cukup dengan itu, mereka juga mengundang Pendeta Nasrani bernama Peter Brouwer untuk ceramah di masjid Salman mengenai Teologi. Meskipun didampingi kiai ketika berceramah, tetap saja sempat memicu konflik.</p>
<p>Namun, di tengah konflik publik, hal ini justru menimbulkan daya tarik tersendiri terhadap masjid Salman ITB. Orang-orang menjadi semakin tertarik dengan masjid Salman ITB. Sehingga dari tahun ke tahun, jamaahnya meningkat.</p>
<p>Tahun-tahun berikutnya, semakin banyak saja kegiatan yang diinisiasi di Salman. Salah satunya adalah unit Gitar Klasik dan Musik Kamar. Selain itu, Hermawan dan kawan-kawan juga membentuk paduan suara Salman.</p>
<p>Tahun 1978, kampus ITB diserbu dan diduduki oleh militer. Pada saat itu, semua kegiatan di kampus dibekukan. Hal ini membuat semua orang beramai-ramai kembali ke Salman. Ceramah yang awalnya diperuntukan untuk orang banyak, kini dipecah menjadi ceramah-ceramah dalam kelompok kecil yang disertai diskusi-diskusi kecil. Dari sinilah cikal bakal kegiatan mentoring di Salman muncul. Lantaran dilakukan segmentasi kelompok untuk anak SD, SMP, dan SMA yang terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok diskusi tertentu, akhirnya pola-pola ini membentuk PAS dan Karisma beserta unit-unit lainnya.</p>
<p>Pada tahun 1979 Bang Imad ditahan, dan bebas dari penjara tahun 1980. Namun Bang Imad kemudian pergi ke luar negeri untuk studi doktoralnya. Hal ini membuat jabatan ketua masjid Salman ITB kosong. Akhirnya, Hermawan yang saat itu baru saja berusia 23 tahun dan baru setahun lulus dari ITB, menggantikan posisi Bang Imad sebagai ketua masjid Salman ITB.</p>
<p>Lantaran dituntut harus mengerti permasalahan yang berkaitan dengan orang dewasa, termasuk mengenai pernikahan dan seputar masalah rumah tangga, Hermawan akhirnya memutuskan untuk menikah pada tahun 1981.</p>
<p>Sejak saat itu, Hermawan aktif mengurus Salman. Selain itu, beliau pun berprofesi sebagai dosen di Teknik Fisika ITB. Beliau berhenti menjabat sebagai Ketua Pelaksana Harian tahun 1984. Ketika itu, dia harus pergi meninggalkan Salman untuk mengambil gelar S2 di Amerika Serikat. Posisinya digantikan oleh Miftah Faridl.</p>
<p><strong>Berjuang Hidup di Negeri Orang</strong></p>
<p><img class="alignright" style="margin:10px;" title="Hermawan K Dipojono ketika Mengajar" src="http://farm3.static.flickr.com/2731/4059597646_0a68c4c7ec_o.jpg" alt="" width="301" height="200" />Hermawan mengambil gelar S2 di University of Hawaii, Honolulu, atas beasiswa dari East-West Center Foundation, sebuah badan federal pemerintah Amerika Serikat. Beliau mengambil bidang Science in Electrical Engineering, Department of Electrical Engineering.</p>
<p>Lantaran terbiasa dengan masjid, hal pertama yang dicari setibanya di sana adalah masjid. Beliau langsung aktif menjadi pengurus masjid Honolulu dan Moslem Student Association. Karena menurutnya, beliau selamat karena mengenal Masjid. Berkat masjid, beliau bisa terus merasa tentram dan terjaga.</p>
<p>Ketika kuliah di Honolulu, beliau belum membawa anak dan istri. Namun, beliau berjanji akan membawa mereka ketika mengambil gelar S3. “Insya Allah, kalau membawa kebaikan, nanti ada jalannya. Walapun saya tidak terpikir jalannya bagaimana, karena kita bukan orang kaya,” kenangnya saat berjanji kepada istrinya.</p>
<p>Benar saja.Ketika mengambil program S3 di Case Western University, Cleveland, Ohio, Hermawan menepati janjinya. Anak dan istrinya beliau bawa ke Amerika untuk menetap di sana. Di sinilah awal dari masa yang beliau sebut sebagai “<em>Spiritual Experience</em>”.</p>
<p>Saat itu, beliau mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia sebesar US$650. Namun, karena membawa keluarga, beliau harus tinggal di apartemen untuk keluarga dengan biaya sewa US$450. Sisa uang yang hanya US$200 per bulannya, membuat beliau harus mencari tambahan penghasilan. Bagaimanapun juga, sisa uangnya tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya.</p>
<p>Pekerjaan tambahannya saat itu adalah memberi makan binatang percobaan di laboratorium Biologi. Karena hanya satu orang yang ditugaskan memberi makan binatang percobaan, membuat Hermawan tidak boleh absen menunaikan kewajibannya. Baik musim dingin atau musim panas, dirinya harus selalu hadir di laboratorium.</p>
<p>Beliau pun sempat melontarkan lelucon terkait pekerjaannya ketika musim libur tiba. Beliau mengaku, ketika itu kampus sepi. Terlebih lagi dengan laboratorium yang letaknya di lantai paling atas. Sudah pasti bisa sangat sepi. Terlebih lagi dengan suara hewan-hewan yang saling bersahutan. Menambah suasana menjadi sedikit angker. Ketika itu, beliau mengaku takut bila harus bekerja. “Takut kalau-kalau ada Frankenstein muncul dan mau mencelakainya,” ujarnya setengah tertawa.</p>
<p>Setelah menempuh pendidikan doktornya, Hermawan akhirnya harus mengikuti ujian Qualifying Exam (QE) sebagai kandidat doktor. Lantaran latar belakang pendidikannya adalah Teknik Fisika, sedangkan bidang doktoral yang diambilnya elektro, beliau agak kesulitan menjalani ujiannya. Akhirnya, dia pun gagal lulus dari dua tes yang disediakan. Padahal, dia sudah belajar keras. Saking kerasnya, rumus-rumus yang dihafalnya kerapkali menyertainya dalam mimpi ketika tidur.</p>
<p>Meskipun gagal, Hermawan masih punya satu kesempatan ujian lagi dengan dua pilihan. Pilihan pertama, ujian selanjutnya hanya berjarak satu bulan sejak beliau dinyatakan gagal ujian sebelumnya. Pilihan kedua, ujian selanjutnya berjarak 6 bulan dengan syarat beliau harus pindah ke kampus di kota lainnya. Bagaimanapun juga, ujian QE harus diambil paling lambat 6 bulan setelah mendaftar program S3.</p>
<p>Setelah berdoa dan memohon petunjuk dari Allah, Hermawan akhirnya memutuskan mengambil ujian yang akan diselenggarakan 6 bulan berikutnya. Konsekuensinya, beliau harus pindah ke kota baru, yaitu ke Ohio State University, Columbus, Ohio.</p>
<p>Di kota baru, beliau harus mencari pekerjaan baru lantaran uang yang dimilikinya di bank telah mencapai batas minimum. Dengan prinsip “Jangan Pernah Menyerah”, petualangan baru di kota baru pun dimulai.</p>
<p>Di sela-sela kesibukannya belajar, Hermawan bekerja membersihkan kamar mandi dan WC di hotel, dan menyetrika seprai serta pakaian.Di hari Sabtu dan Minggu, beliau bekerja sebagai tukang parkir di stadion sepak bola kampus yang berkapasitas 115.000 penonton.</p>
<p>Akhirnya, setelah 6 bulan berlalu, Hermawan berhasil lulus Qualifying Exam dan resmi memulai program doktornya di Department of Electrical Engineering The Ohio State University, Columbus, Ohio. Tidak hanya itu saja. Dia pun mendapatkan beasiswa dari profesornya yang besarnya US$1.200. Ketika itu, dia langsung mengajak anak dan istrinya liburan ke Niagara. “Nikmat sekali setelah menderita. Jadi, penderitaan itu menyebabkan seseorang merasa bahagia pada saat mendapatkan sedikit kemudahan. Jadi kita bisa bersyukur dan rasanya nikmat sekali,” kenangnya khidmat.</p>
<p>Ketika membersihkan kamar mandi dan WC, Hermawan sempat terkenang akan dirinya yang ketika di Salman menjadi Ketua Masjid Salman dan ceramah di mana-mana. Namun di Amerika, beliau malah jadi tukang bersih-bersih. “Pada waktu itu sedih saya. Tapi, sekarang saya bersyukur. Karena dengan begitu saya bisa menasehati mahasiswa. Jangan menyerah!,” ujarnya semangat. “Itu saya tidak hanya berteori, (tapi) saya merasakan langsung. <em>Never ever surrender!</em>”</p>
<p>“Kesulitan itu sebenarnya sebuah kesempatan untuk nanti bisa merasa nikmat. Nikmat sekali,” lanjut Hermawan.</p>
<p>Ketika di Amerika, beliau sempat bingung memberi makan anak istri. Meminta kepada orang tua pun tidak mungkin. Selain malu, hidup orang tuanya pun tidak mudah. “Sampai saya pernah nangis, bingung. Bagaimana ini jalan keluarnya?” tandas Hermawan.</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa selama di Amerika, dirinya harus menjalani perjuangan yang benar-benar sulit. Meskipun begitu, perjuangannya akhirnya terbayar dengan kesempatan jalan-jalan ke Niagara Falls beserta keluarga. “Jadi jangan berkecil hati dengan kesulitan dan keterbatasan. Nanti akan enak,” ujarnya penuh senyum.</p>
<p><strong>Kembali ke Salman</strong></p>
<p>Setelah 12 tahun menuntut ilmu di Amerika, Hermawan beserta keluarga akhirnya pulang ke Indonesia pada tahun 1996. Tahun 1997, beliau kembali diangkat menjadi ketua masjid Salman hingga tahun 2007.</p>
<p>Ketika ditanya alasan kesediaannya untuk kembali mengurus masjid Salman, Hermawan mengaku sangat senang mengurus masjid lantaran memperoleh ketentraman. Beliau juga selalu ingat dengan apa yang ditanamkan kepadanya sejak dulu, “Orang yang disayang oleh Allah itu orang yang sewaktu muda, hatinya tertanam di Masjid.”</p>
<p>Selain itu, mengurus masjid merupakan bentuk terima kasih Hermawan kepada Allah. Karena selama di Amerika, beliau tidak akan bisa bertahan tanpa bantuan dan petunjuk dari-Nya.</p>
<p>Beliau juga menekankan untuk selalu meminta dan berserah diri kepada Allah. “Kalau kamu ada apa-apa, mintanya sama Tuhan. Kalau itu baik dan membawa kebaikan buat kamu, pasti diberikan. Kalau tidak, ditunda. Jadi jangan menyerah,” ungkap Hermawan.</p>
<p><strong>Daya Juang Mahasiswa Rendah</strong></p>
<p><img class="alignright" style="margin:10px;" title="Hermawan K Dipojono bersama Keluarga" src="http://farm3.static.flickr.com/2616/4059597654_fa119c73a5_o.jpg" alt="" width="300" height="214" />Hermawan juga mengomentari kemampuan berjuang mahasiswa sekarang yang jauh lebih rendah dibandingkan mahasiswa dulu. Menurut beliau, saat ini segalanya serba ada. Selain itu, orang tua juga terlalu banyak terlibat sehingga kemandirian mahasiswa kini rendah. Sehingga, tak heran mahasiswa saat ini tidak memiliki daya juang yang cukup. “Godaan (mereka) terlalu banyak. Kemanjaan (mereka juga) terlalu banyak,” nilainya.</p>
<p>Beliau percaya mahasiswa sekarang jauh lebih pintar dan terfasilitasi serta punya masa depan yang lebih baik dari mahasiswa pada zamannya. Mahasiswa sekarang hanya perlu dibangkitkan semangatnya serta dibuka wawasannya. Selain itu, perlu ditanamkan sikap jangan menyerah dan berusaha keras agar disayang oleh Tuhan. “<em>Cause if you got it, you’ll get everything. Guaranteed!</em>” tegas Hermawan.</p>
<p>Hermawan juga mengungkapkan bahwa setiap manusia memiliki potensi. Namun, mahasiswa sering tidak menyadari bahwa dirinya hebat. Potensi yang ada, seringkali dibiarkan tidur hingga mati nanti.</p>
<p>Bagaimana pun juga, lanjut Hermawan, para mahasiswa telah ditakdirkan menjadi khalifatullah. Sudah seharusnya mereka mulai mengasah potensi diri mereka masing-masing.</p>
<p>Menurut Hermawan, setidaknya ada 3 hal yang perlu mereka lakukan untuk memaksimalkan potensi diri. Pertama, mereka harus tahu kekuatannya yang tidak dimiliki orang lain. Kedua, pupuklah dan asah bakat semaksimal mungkin. Ketiga, harus berani fokus dan konsisten di bidangnya.</p>
<p>Hermawan berharap, ke depannya, ada mahasiswa, khususnya yang aktif di Salman, menjadi pemimpin yang disayang oleh rakyatnya. Sehingga, ketika meninggal, semua rakyat akan menangis dan merasa kehilangan. “Saya ingin anak-anak Salman jadi pemimpin seperti itu, yang disayang sama rakyatnya,” tutur Hermawan penuh harap.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1203&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/10/31/hermawan-k-dipojono-pantang-menyerah-dan-selalu-berserah-kepada-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2523/4059597652_68260227be_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hermawan K Dipojono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2731/4059597646_0a68c4c7ec_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hermawan K Dipojono ketika Mengajar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2616/4059597654_fa119c73a5_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hermawan K Dipojono bersama Keluarga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekolah Pra Nikah: Bekal Bagi Mereka Calon Ayah dan Ibu</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/10/04/sekolah-pra-nikah-bekal-bagi-mereka-calon-ayah-dan-ibu/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/10/04/sekolah-pra-nikah-bekal-bagi-mereka-calon-ayah-dan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 05:03:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/?p=1178</guid>
		<description><![CDATA[Masih pagi, tapi sudah cukup siang memang, ketika saya menerima sms dari panitia Sekolah Pra Nikah. Isinya, permintaan untuk menjadi moderator Sekolah Pra Nikah (SPN) angkatan 7. Awalnya saya agak kebingungan disuruh jadi moderator SPN. Alasannya, saya belum menikah dan saya tidak terlalu baik secara artikulasi.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1178&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Masih pagi, tapi sudah cukup siang memang, ketika saya menerima sms dari panitia <a href="http://sekolahpranikah.blogspot.com/">Sekolah Pra Nikah</a>. Isinya, permintaan untuk menjadi moderator <strong>Sekolah Pra Nikah </strong>(SPN) angkatan 7. Awalnya saya agak kebingungan disuruh jadi moderator SPN. Alasannya, saya belum menikah dan saya tidak terlalu baik secara artikulasi.</p>
<p>Awalnya, saya limpahkan permintaan ini ke Veejay. Dan awalnya juga, dia berminat menjadi moderator. Namun, lantaran tawarannya datang terlalu mendadak, yaitu 1 jam sebelum acara, dan dia pun harus merampungkan film yang di situ dia berperan sebagai editor, akhirnya Veejay memilih untuk menolak tawarannya tersebut. Dengan modal wejangan dan sedikit tips-tips membawakan acara dari Veejay, akhirnya saya memberanikan diri mengambil tawaran tersebut.</p>
<p>Tepat pukul 9, saya sudah siap di Gedung Serba Guna (GSG) Salman ITB. Peserta pun sudah mulai berdatangan. Ternyata, ketika briefing di GSG, saya bukan hanya diminta sebagai moderator, tetapi pembawa acara juga. Hasilnya, mati kutu. Untuk jadi pemateri dan moderator sih masih oke. Tapi kalau disuruh jadi pembawa acara, ini sih bukan ranah saya, tetapi ranah bapak dan adik saya. Secara keduanya penyiar radio dan selalu bisa diandalkan sebagai MC. Bahkan konon, adik saya mengaku pernah membawakan acara yang di dalamnya hadir Walikota kesayangannya, Walikota Cimahi.</p>
<p>Kali ini saya benar-benar modal nekad, di samping modal harapan bahwa saya juga mempunyai bakat itu, bakat sebagai pembawa acara. Dan yang pasti, tentu tak ada waktu lagi untuk mencari orang. Adikku? Yah, biarkan dia kuliah dengan tenang di kampus barunya itu. Sulit mengharapkan dia dalam keadaan genting seperti ini.</p>
<p>Tepat pukul 9 lebih sepuluh, acara saya buka. Cukup banyak konsep untuk membuka acara, sudah terkumpul di kepala. Tapi, prakteknya, saya kikuk setengah mati. Benar-benar kaku. Saya kira, saya bisa membawakan acara dengan dinamis. Namun, keadaan malah garing. Yah, saya benar-benar kacau saat itu. Untungnya pembicara sudah ada di tempat. Jadi, saya tidak perlu berlama-lama di tengah kekikukan dan segera menguasai diri untuk berubah menjadi moderator.</p>
<p>Pembicara pada pertemuan pertama ini adalah pak Asep Zaenal Ausop. Beliau merupakan dosen agama di ITB. Saya pernah bermasalah dengan dia, sekali. Sewaktu mewawancarai beliau untuk Salman News. Hal bodoh yang saya lakukan waktu itu adalah menghapus hasil rekaman wawancara di depan dia. Sumpah, itu nggak sengaja. Akhirnya, yang menuliskan profil dia, bukan saya. Tetapi dia sendiri. Mudah-mudahan dia sudah memaafkan dan melupakan kejadian itu. Setidaknya karena ini dalam suasana Idul Fitri, dan dia harus melakukannya.</p>
<p>Beliau membawakan materi tentang Pemahaman Awal Menikah. Meskipun artikulasi beliau agak kurang baik, namun dia begitu luwes dalam membawakan materi. Kami, di Salman Media, sangat menyukai gaya dia dalam membawakan materi. Kocak dan mampu memilih kata dengan cukup tepat. Selain itu, beliau pun sangat pandai dalam memilih perbandingan konsep-konsep yang semula rumit. Hal ini membuat kami yang awam, bisa mengerti apa yang dia sampaikan.</p>
<p>Beliau banyak menyampaikan mengenai konsep besar pernikahan. Menurut beliau, menikah adalah suatu bentuk pernjanjian yang sangat kuat dan mengikat antara seorang pria dan seorang wanita untuk berumah tangga. Beliau menegaskan, tujuan menikah tiada lain mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Ciri dari keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah ketika anggota keluarganya merasa baiti jannati, rumahku adalah surgaku.</p>
<p>Menikah, menurut beliau, tak perlu mahal. Hal terpenting adalah mengumumkan bahwa dua orang anak manusia telah menikah. Rasul bersabda, &#8220;Walimahkan walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing.&#8221; Nikah yang tidak diumumkan adalah nikah sirih, dan menurut beliau, hal tersebut haram.</p>
<p>Kembali ke keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Beliau kemudian memaparkan definisi sakinah, mawaddah, wa rahmah:</p>
<ul>
<li>Sakinah atau tenteram. Keluarga yang sakinah bukan berarti tidak pernah ada masalah. Namun, keluarga yang sakinah mampu menghadapi berbagai masalah dengan bijak dan cepat mencari solusi.
<ul>
<li>Saling pengertian</li>
<li>Saling memahami</li>
</ul>
</li>
<li>Mawaddah atau saling mencintai.
<ul>
<li>Siap saling mengalah</li>
<li>Siap saling berkorban (give and give)</li>
<li>Tidak akan pernah menyebut kelemahan isteri atau suami ke orang lain, kecuali konsultasi, itu pun harus proporsional</li>
</ul>
</li>
<li>Rahmah atau penuh kasih sayang.
<ul>
<li>Perhatian</li>
<li>Khawatir</li>
<li>Ingat jasa</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>Meskipun begitu, dari sekian banyak pasangan yang menikah dan berumah tangga, hanya sedikit yang meraih gelar keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Hal ini disebabkan lantaran ketidakmengertian konsep pernikahan.</p>
<p>Pak Asep Zaenal Ausop juga membahas mengenai cara mencari jodoh yang baik. Pertama, adalah ta&#8217;aruf atau berkenalan. Setelah saling mengenal, bisa beranjak ke jenjang berikutnya, yaitu tafahum atau saling memahami, dan tarahum atau saling mencintai. Kemudian, konsultasikan kepada orang yang sudah berpengalaman atau memiliki banyak pengetahuan tentang perjodohan dan rumah tangga. Hal ini sangat membantu meyakinkan kita atas segala ketidakyakinan yang biasa menyelimuti orang-orang yang sedang mencari jodoh, seperti saya ini.</p>
<p>Hal terakhir yang harus dilakukan adalah istikharah, yaitu meminta petunjuk 4JJ 1 dengan shalat dua rakaat yang diakhiri dengan doa istikharah atau meminta petunjuk atau sesuatu hal.</p>
<p>Dalam mencari jodoh, ada etika ta&#8217;aruf, tafahum, dan tarahum yang harus dipegang, yaitu:</p>
<ul>
<li>Tidak boleh menundukan kepala</li>
<li>Tidak boleh berbicara mendayu-dayu</li>
<li>Tidak boleh mojok</li>
<li>Tidak boleh berdua-duaan, minimal ada banyak orang di sekitar kita, lebih baik lagi, membawa ikut serta keluarga (misalnya: adik, sepupu, atau kakak)</li>
</ul>
<p>Beliau juga memaparkan hal-hal yang menyangkut pernikahan, di antaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Tidak boleh sepihak.</li>
<li>Perempuan boleh menolak. Harus berani dan jangan takut untuk menolak.</li>
<li>Jangan terlalu banyak memberi harapan.</li>
<li>Mas kawin adalah kesepakatan bersama antara calon pengantin pria dan wanita.</li>
</ul>
<p>Dalam hal ini, beliau juga menekankan bahwa yang berhak memilih adalah sang anak. Orang tua hanya mengarahkan. Beliau juga menegaskan bahwa haram hukumnya apabila menikah paksa atau salah satu calon mempelai tidak setuju. Apabila sang perempuan dinikah paksa, dia berhak mengajukan cerai.</p>
<p>Setelah 1,5 jam menemani pak Asep sebagai moderator, akhirnya acara harus tuntas juga. Masih ada 9 pertemuan dalam 9 minggu ke depan. Saya yakin, materi selanjutnya pasti akan lebih menarik. Berikut saya tulis juga materi untuk 9 minggu ke depan.</p>
<ol>
<li>Persiapan Diri Menikah oleh Ust. Budi Prayitno dan dr. Emma Kaysi</li>
<li>Proses Pranikah dan Pernikahan oleh Ust. Hervi firdaus dan Erlin Marlina</li>
<li>Hak dan Kewajiban dalam Rumah Tangga oleh Erlin Marlina, KH Miftah Faridl, dan Siti Muntamah</li>
<li>Mempersiapkan Keluarga oleh KH Miftah Faridl</li>
<li>Psikologi Adam dan Hawa oleh Adriano Rusfi dan Fitriani Y Lubis</li>
<li>Kesehatan oleh dr. Yudi Feriandi dan dr. Emma Kaysi</li>
<li>Administrasi dan Keuangan oleh Rahmat Puryosodo dan Sri Iskandar</li>
<li>Problematika Rumah Tangga oleh Saiful Islam Mubarak</li>
<li>Hukum Pernikahan menurut Islam dan Negara oleh Arif Ramdhani dan Agus Tri S</li>
</ol>
<p>Karena kewajiban meliput kegiatan ini, akhirnya saya mewawancarai <a href="http://gantinarachmaputri.wordpress.com/">Gantina Rachmaputri</a>. Gantina adalah manajer Lembaga Muslimah Salman (LMS) ITB yang baru. Banyak hal menarik yang dia sampaikan selama wawancara. Namun, banyak juga hal yang tidak dia tahu tentang SPN, karena dia mengaku bahwa dia baru di LMS. Hasil liputan tentang LMS, bisa dilihat di situs <a href="http://salmanitb.com/2009/10/sekolah-pra-nikah-didik-masyarakat-arti-pernikahan-sesungguhnya/">Salman ITB</a>.</p>
<p>Ada dua hal yang menarik bagi saya. Hal pertama, adalah Biro Ta&#8217;aruf, semacam biro jodoh. Biro ini langsung ada di bawah LMS. Layaknya Biro Jodoh, biro ini mempertemukan seorang laki-laki lajang dan seorang perempuan lajang. Bedanya, biro ini memegang teguh aturan perkenalan dalam Islam. Perbedaan lainnya, peserta biro ini akan difasiiltasi oleh fasilitator untuk saling mengenal dan melangkah ke jenjang pernikahan.</p>
<p>Bagi yang berminat, program ini tidak repot. Cukup dengan mengirimkan biodata diri beserta foto dan kriteria pasangan yang diidam-idamkan. Nanti, Biro Ta&#8217;aruf akan mencocokan biodata yang masuk melalui kriteria-kriteria pasangan yang disebutkan dalam biodata. Kalau pasangan yang disarankan cocok, para peserta akan difasilitasi oleh fasilitator untuk saling mengenal dan melangkah ke jenjang pernikahan.</p>
<p>Awalnya, program ini hanya untuk peserta SPN saja. Tapi, karena tingginya minat orang dengan biro ini, akhirnya Biro Ta&#8217;aruf dibuka juga untuk umum. Bagi yang ingin tau lebih banyak tentang biro ini, bisa menghubungi LMS di 0856 202 6365 atau melalui email ke lembagamuslimahsalman_itb@yahoo.co.id. Nomor yang tertera, hanya bisa dihubungi selama jam kerja. Di luar itu, coba saja sendiri.</p>
<p>Hal menarik kedua, adalah pengembangan SPN di daerah-daerah. Ternyata, ada cukup banyak juga yang berminat dengan program ini di daerah lain. Gantina bilang, sudah banyak masjid dan lembaga yang mengajukan membuka kelas SPN. Karena pusatnya di Bandung, SPN di daerah akan melalui jalur online melalui video streaming.</p>
<p>Program ini masih memiliki banyak kendala, di antaranya adalah SDM dan fasilitas untuk video streaming. Sebenarnya, kalau aplikasi streaming Salman Media yang diinisiasi oleh mas Yan Harlan rampung, termasuk di dalamnya streaming suara dan video, nampaknya bisa dipergunakan secara luas untuk berbagai program di Salman, seperti program SPN LMS ini.</p>
<p>Perbincangan siang itu berakhir dengan sedikit teguran dari Gantina mengenai performaku saat jadi moderator. Dia memberiku satu kesempatan lagi untuk jadi moderator merangkap pembawa acara. Kalau tetap nggak ada perubahan alias masih kaku, terpaksa minggu depan adalah penampilan saya yang terakhir di SPN. Mudah-mudahan, kalau saja harus berakhir, tidak ada yang merindukan saya. lho?!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1178&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/10/04/sekolah-pra-nikah-bekal-bagi-mereka-calon-ayah-dan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Survei Korban Gempa di Cigalontang, Tasikmalaya</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/09/05/survei-korban-gempa-di-cigalontang-tasikmalaya/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/09/05/survei-korban-gempa-di-cigalontang-tasikmalaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 05:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/?p=1149</guid>
		<description><![CDATA[Sehari setelah gempa melanda Jawa Barat, Masjid Salman ITB langsung mengirimkan tim survei ke masing-masing lokasi bencana gempa bumi. Diwakili Salman Media dan Rumah Amal Salman, tim beranggotakan 6 orang ini langsung menuju Tasikmalaya ba'da Isya pada Kamis, 3 September 2009. Satu tim lagi berasal dari Korps Relawan Salman (Korsa), yang berangkat lebih dahulu secara terpisah, langsung menuju Pamengpeuk, Garut.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1149&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class=" " title="kecamatan cigalontang tasikmalaya" src="http://farm4.static.flickr.com/3459/3885967803_00be46292d.jpg" alt="" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Kondisi kantor kades Jayapura, Cigalontang, Tasikmalaya. Desa ini merupakan wilayah yang paling parah terkena gempa.</p></div>
<p>Sehari setelah gempa melanda Jawa Barat, saya dan tim dari <a href="http://salmanitb.com">Salman ITB </a>langsung survei ke masing-masing lokasi bencana gempa bumi. Bersama rekan-rekan dari <a href="http://salmanitb.com/lembaga/salman-media">Salman Media </a>dan <a href="http://salmanitb.com/lembaga/rumah-amal-salman">Rumah Amal Salman</a>, tim beranggotakan 6 orang ini langsung menuju Tasikmalaya ba&#8217;da Isya pada Kamis, 3 September 2009. Satu tim lagi berasal dari Korps Relawan Salman (Korsa), yang berangkat lebih dahulu secara terpisah, langsung menuju Pamengpeuk, Garut.</p>
<p>Sebelum menggapai Tasikmalaya, kami mampir terlebih dahulu di Garut. Pak Asep &#8220;Garut&#8221;, begitu julukannya, merupakan salah seorang karyawan di Salman ITB. Rumah Pak Asep dan keluarga di Garut, terkena efek gempa. Syukurlah, ketika dikunjungi, rumahnya masih kokoh berdiri. Hanya tampak 2 retakan cukup besar di dinding belakang rumahnya.</p>
<p>Setelah beristirahat sebentar, kami langsung menuju kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya. Agar memudahkan akses menuju lokasi, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di Masjid Agung kota Tasikmalaya dan berangkat setelah sahur dan sholat subuh.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img title="Tenda Pengungsian" src="http://farm4.static.flickr.com/3493/3886699108_1fec56f35b.jpg" alt="" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Sebuah tenda pengungsian di sebelah masjid yang penuh retakan akibat gempa. Ini adalah lokasi pertama kami singgah.</p></div>
<p><strong>Kondisi Korban Memprihatinkan</strong></p>
<p>Tepat pukul 6 pagi, kami telah tiba di kawasan kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya. Menurut informasi, kecamatan ini merupakan kawasan terparah gempa bumi di kabupaten Tasikmalaya selain daerah Cisayong di kabupaten yang sama. Untuk menggapai lokasi bencana, kami harus menempuh jalanan menanjak sejauh sekitar 10 Kilometer. Daerah berbukit dengan diselimuti sawah berundak seluas puluhan hektar, membuat kami kagum. Terlebih lagi seluruh sawah masih berair di tengah musim kemarau yang melanda Indonesia, membuat kami merasa bersyukur bisa berkunjung ke Cigalontang.</p>
<p>Setelah 5 Kilometer kami menanjak, tanda-tanda rumah terkena gempa sudah mulai terlihat di kanan-kiri jalan. Kami memutuskan untuk berhenti sejenak ketika melihat sebuah tenda darurat tanpa penghuni yang di sebelahnya terdapat masjid yang sebagian besar dindingnya mengalami retak. Beberapa penghuni rumah, tengah sibuk membereskan barang-barangnya.</p>
<p>Dari luar, puluhan rumah masih kokoh berdiri. Bahkan, sebagian besar rumah terlihat baik-baik saja, tanpa retak sama sekali. Namun, ketika kami diajak mengunjungi salah satu rumah oleh seorang penduduk setempat, ternyata rumah-rumah tersebut sebenarnya kondisinya sudah cukup parah. Sebagian besar dinding di masing-masing rumah, mengalami retak yang cukup parah. Bahkan, beberapa rumah dindingnya roboh. Tapi, karena robohnya hanya di dalam dan bagian belakang rumah, sehingga bila dilihat dari jalan, nampak baik-baik saja dan tidak terjadi kerusakan yang berarti.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class=" " title="kepala puskesmas cigalontang" src="http://farm3.static.flickr.com/2619/3885900039_772460e221.jpg" alt="" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Kepala Puskesma Cigalontang, Aan Nursalam.</p></div>
<p>Tenda yang kosong pun, tidak berarti para penduduk baik-baik saja secara psikis. Mereka mengaku, sangat trauma dengan kejadian ini. Tenda yang mereka bangun, hanya digunakan ketika malam tiba. Mereka tidur di tenda untuk menghindari dampak gempa susulan di malam hari yang bisa merubuhkan rumah mereka setiap saat. Tak hanya itu saja. Warga pun mengeluhkan bantuan yang tidak merata. Sebagian besar bantuan, hanya terdistribusi di daerah ibu kota kecamatan. Sedangkan daerah lain, tidak begitu beruntung mendapatkan bantuan gempa.</p>
<p>Di lokasi ini, kami juga bertemu dengan kepala puskesmas kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya, Aan Nursalam. Beliau memaparkan bahwa kecamatan Cigalontang memiliki 14 desa. Desa Jayapura, merupakan desa terparah dilanda gempa dibandingkan desa lainnya. Beliau juga memaparkan, bahwa sebagian besar korban hanya mengalami luka ringan. Hanya beberapa saja yang mengalami luka berat dan satu orang yang meninggal dunia. Korban meninggal dunia pun bukan karena tertimpa reruntuhan, namun lantaran mengalami hepertensi ketika terjadi gempa bumi.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class=" " title="Lokasi Pengungsi Gempa" src="http://farm3.static.flickr.com/2500/3885893707_be235f9f06.jpg" alt="" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Posko gempa di kp. Pamengpeuk, Tasikmalaya. Ini ada lokasi kedua kami singgah.</p></div>
<p><strong>Rumah Kayu tetap Kokoh</strong></p>
<p>Hanya sekitar 30 menit kami di lokasi pertama sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya di desa Jayapura. Bangunan-bangunan sepanjang perjalanan 5 Kilometer berikutnya, terlihat begitu memprihatinkan. Beberapa di antaranya sudah separuhnya rubuh, termasuk beberapa gedung sekolah yang kami lewati. Beberapa tenda kecil pun berdiri di beberapa lokasi guna menampung korban gempa ketika malam tiba.</p>
<p>Sekitar 3 Kilometer dari lokasi pertama, kami bertemu dengan tenda pengungsian berikutnya di kampung Pamengpeuk. Di lokasi ini, Rumah-rumah yang rusak akibat gempa, sangat jelas terlihat dari jalan. Aktivitas warga untuk membenahi rumah-rumah yang rusak, sangat jelas terlihat di sini. Tenda pengungsian pun lebih besar dan dihuni oleh ibu-ibu serta anak-anak. Beberapa relawan dari Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), terlihat sedang melakukan survei rumah yang rusak.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 238px"><img class=" " title="Kayu vs Beton" src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs277.snc1/10434_1218441582773_1280897188_636186_3339046_n.jpg" alt="" width="228" height="300" /><p class="wp-caption-text">Rumah beton yang hancur akibat gempa. Di sebelahnya terlihat rumah kayu tetap kokoh berdiri.</p></div>
<p>Semakin menjauhi jalan memasuki gang, kerusakan rumah semakin parah. Beberapa di antaranya rubuh dan tidak layak huni lagi. Bahkan dikabarkan, sebuah pesantren yang terletak tidak jauh dari lokasi pengungsian, mengalami kerusakan cukup parah. Masjidnya pun hancur dan tidak bisa dipergunakan lagi.</p>
<p>Namun, ada satu hal yang menarik di lokasi ini, yaitu rumah kayu. Rumah panggung yang bertiangkan kayu dan berdindingkan bilik, tetap kokoh berdiri. Seorang ibu, bahkan dengan santainya melakukan aktivitas hariannya membersihkan rumah. Sang ibu mengaku dirinya tidak khawatir akan kondisi rumahnya paska gempa. Ketika orang lain mengungsi ke tenda-tenda darurat, dirinya dan keluarga masih bisa tidur dengan nyaman dan aman di rumah.</p>
<p>Kondisi rumah kayu yang masih kokoh di terjang gempa, kami temui juga di perjalanan akhir kami menuju desa Jayapura. Baik rumah kayu besar, maupun kecil, masih tetap dihuni tanpa ada rasa khawatir akan roboh diterjang gempa.</p>
<p>Saya jadi berpikir untuk membuat rumah kayu saja. Lebih tahan gempa dan lebih ramah bagi lingkungan. Terlebih lagi, ketika kemarin saya harus merasakan gempa di gedung kayu, julukan rumah kayu di Salman ITB, benar-benar mengasyikan. Selain tak perlu khawatir akan roboh, goyangannya pun terasa bermain jungkit-jungkitan.</p>
<p><strong>Distribusi Bantuan Tak merata</strong></p>
<p>Sekitar pukul 7 pagi, kami tiba di desa Jayapura, kecamatan Cigalontang, kabupaten Tasikmalaya. Di ibu kota kecamatan Cigalontang ini, kami temui banyak rumah yang ambruk diterjang gempa. Sebuah masjid, kantor kecamatan, dan sebagian ruangan sekolah, pun ambruk tak lepas dari terjangan gempa. Tenda-tenda pengungsian yang didirikan di sebuah lapangan Sekolah Dasar, dipenuhi oleh ibu-ibu, anak-anak, dan orang tua lanjut usia.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class=" " title="cigalontang" src="http://farm4.static.flickr.com/3449/3886766712_5c817dab68.jpg" alt="" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Rumah yang porak poranda akibat gempa. Lokasi pengambilan gambar tidak jauh dari kantor kepala desa Jayapura.</p></div>
<p>Meskipun begitu, kondisi korban jauh lebih baik dibandingkan kondisi korban gempa di 2 lokasi sebelumnya. Berbagai fasilitas bencana seperti layanan kesehatan, telekomunikasi, dan bahan pangan, dapat dengan mudah ditemui di lokasi ini. Kebanyakan, fasilitas yang tersedia di dukung oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM), partai politik, relawan, provider telepon seluler, media, dan unsur TNI serta POLRI.</p>
<p>Berbagai bantuan tenaga bencana pun bermarkas di lokasi ini. Dimulai dari relawan bencana, pencinta alam, hingga tenaga dari TNI dan POLRI. Meskipun begitu, selama hampir 1 jam kami berada di lokasi, belum terlihat aktivitas mereka membantu warga membersihkan puing-puing reruntuhan. Warga, secara terpisah, membenahi tempat tinggalnya sendiri.</p>
<p>Melihat kondisi korban di ibu kota dan di 2 lokasi sebelumnya yang kami kunjungi, memperlihatkan keadaan yang cukup timpang. Kondisi korban di 2 lokasi pertama, begitu memprihatinkan karena minimnya bantuan, baik layanan kesehatan, tenaga, maupun logistik. Padahal di lokasi pertama terdapat rumah kepala puskesmas Cigalontang. Namun, ironisnya warga sekitar mengaku belum mendapatkan bantuan logistik.</p>
<p><strong>Distribusi Bantuan</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 201px"><img class=" " title="Di lokasi pengungsi gempa" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs257.snc1/10434_1218388501446_1280897188_635928_7104634_n.jpg" alt="" width="191" height="250" /><p class="wp-caption-text">Tetep narsis...</p></div>
<p>Menjelang pukul 8, kami beranjak kembali ke Bandung. Karena waktu yang tidak memungkinkan, akhirnya kami mengurungkan niat untuk berkunjung ke Cisayong, daerah lainnya yang mengalami kerusakan gempa paling parah selain Cigalontang.</p>
<p>Untuk distribusi bantuan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, lebih baik survei terlebih dahulu tempat yang memang membutuhkan. Jangan sampai, bantuan terpusat di satu daerah dan tidak menjangkau daerah bencana lainnya.</p>
<p>Kedua, karena bencana ini menimpa bagian selatan Jawa Barat, hendaknya distribusi bantuan tidak terfokus ke Tasikmalaya saja. Daerah lainnya, seperti Bandung Selatan, Garut, Cianjur, dan Sukabumi, pun mengalami kerusakan gempa yang tidak kalah hebatnya dan banyak dari daerah tersebut belum terjamah bantuan sama sekali.</p>
<p>Ketiga, disarankan memberi bantuan ke lokasi yang lebih dekat dengan kota tempat tinggal. Hal ini mempertimbangkan faktor jarak dan waktu. Semakin dekat jaraknya, semakin cepat bantuan terdistribusi dan semakin baik bagi para korban.</p>
<p>Bagi rekan-rekan yang ingin menyalurkan bantuan melalui Masjid Salman ITB, dapat menghubungi Korps Relawan Salman (Korsa) dan Rumah Amal Salman ITB. Bantuan dana juga bisa disampaikan melalui rekening-rekening atas nama YPM Salman ITB berikut:</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="    " title="Anggota tim yang lain selain saya." src="http://farm3.static.flickr.com/2455/3886775628_0d1493aa6c.jpg" alt="Anggota tim yang lain selain saya." width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Anggota tim lainnya, kiri - kanan: Ricky UK (Reporter CyberMosque), Reza A (DoP  Salman Films), dan Muhsin M (Divisi Media Rumah Amal Salman)</p></div>
<ul>
<li><strong>BNI 46 </strong>No. Rek. <strong>002 8683 291</strong></li>
<li><strong>Bank Syariah Mandiri </strong>No. Rek. <strong>007 0192 638</strong></li>
<li><strong>Bank Mandiri </strong>No. Rek. <strong>131 000 471 0887</strong></li>
<li><strong>Bank Bukopin Syariah </strong>No. Rek <strong>8800 141 045</strong></li>
<li><strong>Bank Muamalat </strong>No. Rek. <strong>102 000 1115</strong></li>
<li><strong>BTPN Syariah </strong>No. Rek. <strong>601 1 001260</strong></li>
<li><strong>BCA </strong>No. Rek. <strong>777 0857605</strong></li>
<li><strong>BTN Syariah </strong>No. Rek. <strong>702 1000 148</strong></li>
</ul>
<p>Bagi rekan-rekan yang berminat menjadi relawan bencana gempa, bisa menghubungi Korps Relawan Salman (Korsa) melalui Tri Wulandari (<strong>022 609 67440 </strong>/ <strong>0857 2001 8911</strong>).</p>
<p>Semoga apa yang kita usahakan bisa membantu mereka. Amin&#8230;</p>
<p><em>NB: Foto lainnya bisa diakses di <strong><a href="http://www.flickr.com/photos/yudhaspiza/tags/tasikearthquake">Flickr</a></strong> saya dengan tag <strong>TasikEarthQuake</strong>. Semua foto bebas didistribusikan untuk kepentingan publik dan non-komersil dengan syarat mencantumkan nama fotografer dan atau situs blog fotografer. Bagi mereka yang membutuhkan foto dengan ukuran lebih besar, bisa menghubungi saya melalui email.<br />
</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1149&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/09/05/survei-korban-gempa-di-cigalontang-tasikmalaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3459/3885967803_00be46292d.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kecamatan cigalontang tasikmalaya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3493/3886699108_1fec56f35b.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tenda Pengungsian</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2619/3885900039_772460e221.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kepala puskesmas cigalontang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2500/3885893707_be235f9f06.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lokasi Pengungsi Gempa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs277.snc1/10434_1218441582773_1280897188_636186_3339046_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kayu vs Beton</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3449/3886766712_5c817dab68.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cigalontang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs257.snc1/10434_1218388501446_1280897188_635928_7104634_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Di lokasi pengungsi gempa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2455/3886775628_0d1493aa6c.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anggota tim yang lain selain saya.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rappelling dan Pelajaran Kehidupan</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/08/28/rappelling-dan-pelajaran-kehidupan/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/08/28/rappelling-dan-pelajaran-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 18:40:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Hobi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/?p=1143</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, saya diberi kesempatan untuk melakukan rappelling, sebuah kegiatan menuruni tempat yang tinggi dengan menggunakan tali. Menara Masjid Salman ITB merupakan tempat yang kami jadikan lokasi rappeling. Saya sendiri tidak tahu berapa tingginya menara Salman. Nampaknya lebih dari 30 meter. Sebuah tempat yang sangat tinggi memang, setidaknya bagi saya.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1143&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa waktu yang lalu, saya diberi kesempatan untuk melakukan rappelling, sebuah kegiatan menuruni tempat yang tinggi dengan menggunakan tali. Menara Masjid Salman ITB merupakan tempat yang kami jadikan lokasi rappeling. Saya sendiri tidak tahu berapa tingginya menara Salman. Nampaknya lebih dari 30 meter. Sebuah tempat yang sangat tinggi memang, setidaknya bagi saya.</p>
<p>Kegiatan ini memang dadakan. Setelah selesai mengadakan lomba balap karung dadakan, beberapa anak muda yang masih nongkrong-nongkrong di bawah menara, langsung mengajukan untuk rappeling. Waktu itu, selain saya, ada Tri, Muchsin, <a href="http://irfanview.wordpress.com/">Irfan</a>, Anis, dan beberapa orang lainnya yang saya lupa. Hasilnya, disetujui oleh kang Awang, tokoh paruh baya di Masjid Salman ITB.</p>
<p>Setelah pintu menara di buka dan alat-alat telah disiapkan, beberapa orang langsung bersiap memasang webbing ke tubuhnya yang difungsikan sebagai harness atau tali tubuh. Saya bersama Sandro, sang fotografer, langsung merangsek ke atas menara. Tanpa tangan kosong, saya pun berinisiatif membawa serta tali yang cukup panjang dan cukup berat.</p>
<p>Langkah pertama saya pada tangga menara, cukup membawa kegetiran tersendiri. Tangga yang tebalnya lebih kurang hanya 1 Cm, harus saya lewati hingga ke puncak menara. Entah berapa anak tangga, yang pasti cukup membuat saya terkadang berpikir ulang untuk turun kembali ketika melihat ke bawah. Belum lagi dengan kondisi ruangan yang hanya berukuran 2 x 2 meter dan menyempit di atasnya hingga hanya 1,5 x 1,5 meter. Semakin menciutkan hati yang sudah ciut.</p>
<p>Selama berjalan ke atas menara, sesekali saya melihat ke bawah. Hal ini sudah menimbulkan kengerian tersendiri. Belum lagi bila menengok ke luar dari rongga-rongga yang menghiasi menara. Semakin membuat saya bertambah ngeri. Tapi lantaran rasa penasaran yang besar untuk melakukan rappeling, akhirnya saya tidak mau ambil pusing dengan ketakutan saya.</p>
<p>Tangga yang harus saya lewati strukturnya zig-zag. Setelah melewati serangkaian tangga, saya harus berputar 180 derajat untuk menaiki rangkaian tangga lainnya yang berlawanan arah. Pijakan untuk berputar terbuat dari beton dengan lebar hanya 0,5 meter, bahkan mungkin kurang.</p>
<p>Tiga rangkaian tangga lagi, dan saya akan tiba di atap menara. Namun, tali yang saya bawa, beratnya bertambah. Mungkin karena gaya gravitasi yang semakin besar, sehingga berat benda pun bertambah. Dengan gemetaran dan nafas terengah-engah, saya masih nekad meneruskan perjalanan hingga ke atap menara. Melihat ke atas, Sandro dengan lincahnya telah tiba di atap menara. Melihat ke bawah, bukan hal yang bisa dinikmati.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 282px"><img class=" " title="Menara" src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs166.snc1/6213_1207688873962_1280897188_596235_1657180_n.jpg" alt="Ketika sampai di atap menara dan hanya bisa duduk terdiam tak berdaya." width="272" height="362" /><p class="wp-caption-text">Ketika sampai di atap menara dan hanya bisa duduk terdiam tak berdaya.</p></div>
<p>Tinggal satu rangkaian tangga lagi, dan saya akan tiba di atap menara. Namun, saya memilih untuk duduk sejenak di pijakan antar rangkaian tangga. Di sini, saya benar-benar merasa takut, sangat takut. Niat untuk membatalkan melakukan rappelling dan turun ke bawah, semakin tak terelakan. Hal ini diperparah lagi dengan hembusan angin yang begitu besar. Membuat saya tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Bahkan, rasanya saya ingin berteriak minta tolong dan berharap ada petugas pemadam kebakaran yang menggendong saya untuk turun ke bawah.</p>
<p>Sepanjang keadaan menakutkan ini, saya mencoba melihat sekeliling. Melihat ke bawah, begitu mengerikan. Saya benar-benar tak sanggup melihatnya. Namun, tetap saja saya melihatnya. Di sebelah timur, saya melihat atap gedung Rumah Sakit Boromeus sejajar dengan saya. Melihat ke sebelah barat, Masjid Salman jauh lebih rendah dari tempat saya duduk. Bahkan saya melihatnya begitu kecil.</p>
<p>Namun, perlahan-lahan rasa takut itu mulai hilang seiring kawan-kawan lain menyusul saya naik ke atap menara. Kang Awang pun tiba di tempat saya duduk ketakutan. Tanpa mengidahkan saya, dia langsung menuju atap menara. Akhirnya, saya mencoba memberanikan diri lagi. Saya menaruh tali yang dibawa, dan meneruskan perjalanan hingga atap menara.</p>
<p>Dan ternyata, saya bisa menggapai menara. Angin yang begitu besar, sangat besar, langsung menerpa saya seperti mengucapkan selamat datang di ketinggian bumi. Atap menara Salman sebenarnya cukup menyeramkan. Luasnya hanya 1,5 x 1,5 meter dan hanya berlapis keramik berwarna putih. Di sebelah utara dan timurnya, terdapat tembok setinggi satu meter. Sedangkan di bagian barat dan timurnya, benar-benar tanpa pembatas.</p>
<p>Saya langsung duduk tanpa daya sambil memegang penangkal listrik yang tertancap di tengah-tengah atap menara. Cukup kuat dan tidak goyang, sehingga saya sedikit merasa yakin bahwa saya aman di atas sini. Dengan lenggangnya, seekor merpati terbang dengan enaknya 2 meter di atas saya. Saat itu, saya hanya mampu mencaci-maki sang merpati lantaran begitu mudahnya dia bermain-main di ketinggian, sedangkan saya harus mati-matian melawan ketakutan ini.</p>
<p>Saat itu, saya benar-benar kecil. Tak jarang kalimat Allahuakbar dan Subhanallah, keluar dari mulut saya mencerminkan ketakutan ini membuat saya benar-benar tak berdaya dan membutuhkan Tuhan.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 372px"><img class=" " title="Menara" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs166.snc1/6213_1207688913963_1280897188_596236_6453007_n.jpg" alt="Mulai bisa berdiri dan tersenyum di atap menara. Padahal anginnya cukup kencang dan besar." width="362" height="272" /><p class="wp-caption-text">Mulai bisa berdiri dan tersenyum di atap menara. Padahal anginnya cukup kencang dan besar.</p></div>
<p>Sembari menenangkan pikiran, saya mengobrol dengan Sandro. Ternyata, dia mengalami hal serupa dengan saya, merasa sangat takut ketika berada di atas gedung. Namun, dia berhasil melawan ketakutan itu. Apa yang dibilang Sandro, benar-benar menginspirasi saya untuk mulai belajar berdiri di atas menara. Angin yang semakin besar, saya coba lawan. Rasa takut ketinggian, saya coba redam dengan sesekali nekad melihat ke bawah. Akhirnya, saya bisa nyengir juga sambil berfoto di atas menara. Huf, perjuangan yang sangat berat bagi saya saat itu.</p>
<p>Tiga puluh menit kemudian, rekan-rekan lainnya tiba di atap. Lantaran hanya muat untuk 4 orang, saya mengalah dan berdiam diri satu lantai di bawah atap menara. Irfan juga baru tiba. Dia berdiam diri di seberang saya. Di antara kami, menganga lubang selebar 1 meter tempat tangga berhubungan satu sama lain. Sedangkan satu lantai di bawah kami, Anis dengan senyum malu-malunya, kalem berdiri sembari sesekali terlibat berbincang-bincang dengan saya dan Irfan.</p>
<p>Kami menunggu tali selesai dipasangkan. Saya dan Irfan berbagi ketakutan dan pengalaman menuruni menara dengan rappelling. Ini adalah kali kedua Irfan rappelling dan dia ingin mencoba &#8220;melompat-lompat&#8221; ketika turun nanti. Ah, saya tidak tahu apa nama teknik yang akan dia gunakan. Pastinya, teknik &#8220;melompat-lompat&#8221; cukup enak didengar dan diingat oleh saya.</p>
<p>Begitu tali siap untuk dituruni, Irfan langsung mengajukan diri menuruni menara pertama. Sembari dia bersiap di ujung lubang, saya menyeberang ke tempat Irfan duduk sebelumnya sambil memasangkan carabiner di harness yang melilit tubuh. Namun, ketika bersiap menuruni menara, kang Awang memperingatkan saya untuk mengencangkan harness saya. Akhirnya, Tri mendahului saya untuk turun dan saya berikutnya.</p>
<p>Tepat waktu maghrib, adzan berbunyi di speaker masjid yang jaraknya kurang dari 1 meter di hadapan saya. Sambil menunggu adzan selesai berkumandang, saya bersiap-siap memasukan carabiner ke harness saya sembari melepas ketegangan. Kali ini, saya sudah mampu menguasai diri saya dari ketakutan akan ketinggian yang awalnya menghantui saya.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 372px"><img class=" " title="Menara" src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs166.snc1/6213_1207688753959_1280897188_596233_871346_n.jpg" alt="Saya sudah tersenyum dengan senang. Bukan karena bisa turun, tapi karena saya percaya apa yang saya pegang." width="362" height="272" /><p class="wp-caption-text">Saya sudah tersenyum dengan senang. Bukan karena bisa turun, tapi karena saya percaya apa yang saya pegang.</p></div>
<p>Selesai adzan, dengan dibantu Muhsin, saya menuju tempat penurunan. Mengerikan sekali. Terutama ketika harus jongkok untuk posisi awal. Namun, tiba-tiba dalam diri saya menagih janji perkataan saya dulu yang tidak akan takut ketinggian bila saya terikat dengan tali. Saya akhirnya mencoba membuktikan perkataan itu sembari berusaha melihat ke bawah.</p>
<p>Benar saja, saya tidak merasakan takut. Ketika mulai menuruni menara, saya merasa amat sangat percaya diri. Ketakutan itu sudah lewat digantikan oleh rasa senang lantaran saya bisa mencoba rappelling. Sebuah pengalaman yang sangat impikan sejak lama guna mengakomodir kegemaran saya dalam hal manjat memanjat.</p>
<p>Meskipun begitu, saya belajar banyak hal dari kejadian tersebut, terlebih lagi tentang perjuangan dalam menghadapi hidup.</p>
<p>Hidup, terkadang sulit. Bahkan, bisa teramat sulit. Ketika kita mulai menapaki kehidupan, tak jarang kita akan merasa tidak mampu dan ingin rasanya menyerah pada keadaan. Padahal, titik final kehidupan dan kebahagiaan, sudah ada di depan mata. Namun, kita hanya melihat bahwa kita ada dalam kesulitan, bukan melihat pada apa yang sudah ada di depan kita. Jangan terlalu banyak lihat ke belakang, karena itu salah satu hal yang membuat kita sulit melewati cobaan.</p>
<p>Pelajaran lainnya, kita akan lebih tenang ketika memiliki pegangan. Ketika kita percaya dengan pegangan tersebut, kita tidak akan takut terjatuh. Perasaan kita akan senang dan menikmati apa yang sedang kita jalani. Padahal, apa yang sedang kita lakukan, sebenarnya adalah hal yang berbahaya dan mengancam hidup kita.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1143&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/08/28/rappelling-dan-pelajaran-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs166.snc1/6213_1207688873962_1280897188_596235_1657180_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Menara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs166.snc1/6213_1207688913963_1280897188_596236_6453007_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Menara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs166.snc1/6213_1207688753959_1280897188_596233_871346_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Menara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dr. Thomas Djamaluddin: Menuju Penyatuan Penanggalan Islam di Indonesia</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/08/19/dr-thomas-djamaluddin-menuju-penyatuan-penanggalan-islam-di-indonesia/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/08/19/dr-thomas-djamaluddin-menuju-penyatuan-penanggalan-islam-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 19:06:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/?p=1137</guid>
		<description><![CDATA[Adalah Thomas Djamaluddin, astronom sekaligus Anggota Badan Hisab Rukyat, yang berusaha menyatukan penanggalan Islam di Indonesia. Putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, wanita asal Cirebon ini, dilahirkan di Purwokerto pada 23 Januari 1962.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1137&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Berbicara mengenai penanggalan dalam Islam, tentunya tak lepas dari pengamatan satelit Bumi, Bulan. Fase-fase yang terjadi selama Bulan mengitari Bumi, menjadi rujukan bagi umat Islam dalam menentukan hari-hari penting keagamaan, seperti awal Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan tahun baru penanggalan Islam.</p>
<p>Namun, tak serta merta seluruh umat Islam di Indonesia memiliki persepsi yang sama dalam penentuan penanggalan Islam. Bahkan, Idul Fitri beberapa tahun belakang ini, seringkali berbeda antar satu daerah dan daerah lainnya.</p>
<p>Banyak pihak menyayangkan perbedaan penanggalan Islam di Indonesia. Meskipun begitu, beberapa pihak berusaha mempertemukan pihak-pihak yang memiliki perbedaan penentuan penanggalan Islam, agar memiliki pemahaman yang sama dalam penentuan penanggalan Islam.</p>
<p><img class="alignleft" style="margin:5px;" title="Thomas Djamaluddin" src="http://udpbvq.blu.livefilestore.com/y1pK5LmSZ4elS5LDA9kursPYyxsSJT9yzAWLG2DHylDJW1qXR9P6M5ZL-f4znrYtjI0a38cvyObWOOctgtZcCZfXA/TD-1985-Mhs-Astronomi-Ceramah.jpg" alt="" width="288" height="204" />Adalah Thomas Djamaluddin, astronom sekaligus Anggota Badan Hisab Rukyat, yang berusaha menyatukan penanggalan Islam di Indonesia. Putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, wanita asal Cirebon ini, dilahirkan di Purwokerto pada 23 Januari 1962.</p>
<p>Thomas menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Cirebon sejak 1965. Memulai pendidikan dasarnya di SD Negeri Kejaksaan 1 Cirebon dan SMP Negeri 1 Cirebon. Sejak kecil, pria yang hobi menulis dan membaca ini, bercita-cita menjadi seorang peneliti. Saat itu, Thomas masih belum tahu bidang apa yang dia ingin tekuni. Bahkan sempat Thomas berpikiran menjadi peneliti tanaman lantaran ketertariakannya pada dunia tumbuh-tumbuhan.</p>
<p>Namun, perkenalannya dengan majalah Megatronika dan Scienty yang banyak membahas mengenai UFO, merubah ketertarikan Thomas ke bidang antariksa. Terlebih lagi setelah melanjutkan ke SMAN 2 Cirebon. Di perpustakaan sekolah, Thomas menemukan banyak buku ensiklopedia Amerika yang bercerita seputar UFO dan fenomena antariksa lainnya.</p>
<p>Semakin sering membaca, semakin menumbuhkan rasa keingintahuan Thomas akan astronomi. Bahkan, terbesit dalam benak Thomas untuk mengkajinya dari sudut pandang agama. Ditunjang oleh hobi menulisnya, akhirnya tulisan Thomas berjudul “UFO, Bagaimana Menurut Agama?” dimuat di majalah Scienty. Tak hanya itu saja. Momen ini pun membuat Thomas yakin untuk menjadi peneliti di bidang Astronomi.</p>
<p><strong>Berkiprah di Astronomi</strong></p>
<p>Ketika duduk di bangku kelas 3 SMA, Thomas mendapat tawaran Proyek Perintis 2, yang saat ini dikenal dengan istilah Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Ketika itu, ITB baru pertama kali menawarkan program tersebut.</p>
<p>Dari sekian banyak jurusan yang ditawarkan, astronomi termasuk di dalamnya. Dengan mantap dan penuh keyakinan, Thomas pun melamar ke jurusan tersebut dan diterima. Dari fase inilah kehidupan Thomas sebagai mahasiswa Astronomi ITB, dimulai.</p>
<p>Hal pertama yang ingin di jawab Thomas ketika menjadi mahasiswa astronomi, adalah makna surat An-Nur dengan latar belakang aqidah. “Saya ingin membuktikan ada satu ayat di dalam Al-quran tentang surat An-Nur , terkait cahaya”, jelas Thomas ringkas.</p>
<p>“Konsep tentang cahaya yang digambarkan (surat An-Nur) itu adalah cahaya Allah. Bahwa Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Pemahaman dari segi metafisiknya mendalam sekali. Tapi saya melihat dari aspek sainsnya bahwa di sana (surat An-Nur), (ketika) bagaimana cahaya menjadi sumber informasi bagi alam semesta, itu (adalah) menarik sekali,” sambung Thomas kagum.</p>
<p>Ketertarikan Thomas dalam bidang astronomi, membuatnya ingin menjadi dosen. Namun, ternyata tawaran tersebut tak kunjung datang. Atas informasi dari temannya, Thomas pun melamar ke Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dengan harapan akan dikuliahkan S2.</p>
<p>Ternyata, benar saja.  Tahun 1988 hingga 1994, Thomas pun memperoleh kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 di Department of Astronomy, Kyoto University, Jepang.</p>
<p>Selama di Negeri Sakura, Thomas aktif sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J). Tak hanya itu saja. Thomas pun dipercaya sebagai sekretaris di Kyoto Muslims Association dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang.</p>
<p>Atas pertanyaan-pertanyaan mahasiswa muslim di Jepang terkait penentuan awal bulan Islam di daerah selain Tokyo dan Kobe, maka dibuatkanlah program jadwal sholat untuk seluruh kota besar di Jepang pada 1993-1994. Maklum, ketika itu hanya 2 kota tersebut yang jadi sumber penentuan jadwal sholat di Jepang. Lebih dari itu. Thomas pun menulis buku terkait makanan halal-haram, panduan sebagai muslim, dan jadwal sholat di kota-kota besar di Jepang melalui buku “Guide for Muslim in Japan”.</p>
<p>Saat ini, suami dari Erni Riz Susilawati ini, tercatat sebagai peneliti Astronomi dan Astrofisika di LAPAN. Di lembaga yang sama pula, beliau juga dipercaya sebagai Kepala Pusat Sains Atmosfir setelah sebelumnya memangku jabatan sebagai Kepala Unit Komputer Induk dan Kepala Bidang Matahari dan Antariksa.</p>
<p><strong>Salman dan Angka 13</strong></p>
<p>Aktivitas Thomas di Masjid Salman ITB diakuinya tak lepas dari angka 13. Di tahun pertama kuliahnya di ITB, beliau memilih Keluarga Remaja Islam Masjid Salman (Karisma) ITB sebagai tempat mendidik mental berorganisasinya. Ketika itu, Thomas ingat betul bahwa dirinya mendaftarkan diri sebagai anggota pada tanggal 13 September 1981.</p>
<p>Namun, Thomas malah diangkat sebagai Mentor Karisma. Tak tanggung-tanggung, dirinya langsung diamanahi memegang grup campuran. Ketika ada pemecahan grup sesuai jenjang sekolah pun, Thomas masih diamanahi untuk memegang grup di tingkat SMP, SMA, dan mahasiswa.</p>
<p>Selain aktif sebagai mentor, Thomas pun ikut menjadi bagian tim pembuatan materi buku mentoring Karisma ITB. Dalam tim tersebut, dia aktif sebagai penulis buku mentoring dengan judul Membina Masjid, Doa dan Ibadah, dan Masyarakat Islam.</p>
<p>Thomas tercatat aktif di Karisma selama 13 semester sejak tahun pertama kuliah hingga bekerja di LAPAN. Namun, dirinya harus melepaskan jabatannya di Karisma lantaran harus berangkat tugas belajar program S2 di Jepang. Tanggal pengunduran dirinya pun masih Thomas ingat betul, yaitu 13 Maret 1988. Lagi-lagi berkaitan dengan angka 13. “Tapi anak cukup tiga saja. Tidak mau tiga belas,” canda Thomas.</p>
<p>Sepulangnya dari Jepang, Thomas kembali aktif di Masjid Salman ITB. Dia kerap terlihat mengisi ceramah-ceramah di Salman. Tak hanya itu saja. Thomas pun dipercaya menjadi pengurus Masjid Salman ITB sebagai wakil ketua Lembaga Pengkajian Islam (LPI) Salman ITB, mendampingi Moedji Raharto selaku ketua yang merupakan astronomer di ITB juga.</p>
<p><strong>Ilmu Pengetahuan untuk Agama</strong></p>
<p>Menyadari adanya keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan agama, sedari mahasiswa Thomas giat melakukan pengkajian ilmu pengetahuan dan agama. Tak hanya itu saja. Thomas pun memiliki keinginan yang cukup besar memasyarakatkan astronomi untuk ibadah.</p>
<p>“Salah satu cara populerisasi  astronomi adalah mendekatkan astronomi dengan kehidupan sehari-hari. Dan ibadah adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak dapat dipisahkan (dari masyarakat),” ungkap Thomas. Dirinya juga berpendapat bahwa sisi aqidah, ingin dilakukannya secara professional sehingga menjadi bagian yang integral dengan keimanannya.</p>
<p>Guna mewujudkan keinginannya itu, Thomas pun berusaha melengkapi ilmu agamanya. Berbekal pengetahuan dasar Islam yang diperolehnya dari sekolah agama setingkat Ibtidaiyah yang dilengkapi dengan aktivitasnya di masjid Salman selama kuliah, membuat Thomas lebih mudah mempelajari Islam secara autodidak dari membaca buku serta menyelarasakannya dengan astronomi.</p>
<p>Melalui hobi menulisnya, Thomas pun mulai mengutarakan pemikirannya terkait astronomi dan agama, melalui media tulis di media massa cetak. Hal ini membawa pria yang gemar bersepeda ke kantor ini, dikenal banyak orang, termasuk oleh Departemen Agama dan Badan Hisab Rukyat. Tak hanya itu saja. Thomas pun akhirnya diajak bergabung.</p>
<p>Sebelumnya Thomas memang sering memberikan masukan mengenai penanggalan Islam kepada badan terkait. Thomas pun berusaha memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai perbedaan-perbedaan yang terjadi. Maka, tak heran ketika terbentuk Badan Hisab Rukyat Jawa Barat, ia pun ikut bergabung sebagai anggota tim pengkajian Hisab Rukyat.</p>
<p>Ketertarikannya di bidang Hisab Rukyat, dilatarbelakangi pemahamannya dari sisi astronomi dan sisi syariah. Menurutnya, menyamakan persepsi secara keseluruhan memang sulit, lantaran terkait dengan dalil-dalil dan keyakinan masyarakat tentang penanggalan Islam  yang berbeda-beda. Meskipun begitu, dirinya yakin bisa dicarikan titik temu perbedaan tersebut.</p>
<p>Saat ini, Thomas sedang mengupayakan masyarakat untuk paham dan menjadikan astronomi sebagai solusi guna mencapai titik temu dalam penyeragaman penanggalan Islam di Indonesia. Hal-hal yang menimbukan perbedaan di masyarakat terkait penentuan hari raya, sudah mulai ditemukan titik temunya melalui persamaan kriteria pada Hisab Rukyat. Mudah-mudahan, di masa yang akan datang, umat Islam di Indonesia, dapat menjalankan awal Ramadhan, menjalankan Idul Fitri dan Idul Adha, secara bersama-sama. Semoga.</p>
<p><em><strong>yudh </strong></em>on <strong>SalmanNews</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1137&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/08/19/dr-thomas-djamaluddin-menuju-penyatuan-penanggalan-islam-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://udpbvq.blu.livefilestore.com/y1pK5LmSZ4elS5LDA9kursPYyxsSJT9yzAWLG2DHylDJW1qXR9P6M5ZL-f4znrYtjI0a38cvyObWOOctgtZcCZfXA/TD-1985-Mhs-Astronomi-Ceramah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Thomas Djamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maknai Cinta, GIM Luncurkan Malam Puisi Cinta</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/07/20/maknai-cinta-gim-luncurkan-malam-puisi-cinta/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/07/20/maknai-cinta-gim-luncurkan-malam-puisi-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 04:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa dan Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Boni]]></category>
		<category><![CDATA[CyberMosque.com]]></category>
		<category><![CDATA[deklamasi puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook Women Community]]></category>
		<category><![CDATA[FBWC]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung Indonesia Menggugat]]></category>
		<category><![CDATA[GIM]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Laskar Panggung]]></category>
		<category><![CDATA[Majelis Sastra Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Puisi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Mencari Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[Miranda Risang Ayu]]></category>
		<category><![CDATA[Moch. S Hanief]]></category>
		<category><![CDATA[MSB]]></category>
		<category><![CDATA[Mukti Mukti]]></category>
		<category><![CDATA[Perintis Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[romantisme cinta melalui puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Selamat datang di dunia cinta]]></category>
		<category><![CDATA[situs jejaring sosial]]></category>
		<category><![CDATA[VOB]]></category>
		<category><![CDATA[voiceofbandung.com]]></category>
		<category><![CDATA[Yusef Muldiyana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Boni, begitu panggilannya, seorang gadis kecil berkacamata yang saat ini masih duduk di kelas 3 SD. Sabtu malam, 18 Juli 2009 lalu, dia berdiri di hadapan skitar 70 orang penonton yang duduk lesehan memadati salah satu ruangan Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jl. Perintis Kemerdekaan No. 5, Bandung.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1133&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Boni, begitu panggilannya, seorang gadis kecil berkacamata yang saat ini masih duduk di kelas 3 SD. Sabtu malam, 18 Juli 2009 lalu, dia berdiri di hadapan skitar 70 orang penonton yang duduk lesehan memadati salah satu ruangan Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jl. Perintis Kemerdekaan No. 5, Bandung.</p>
<p>Berbalut kemeja putih dan celana jeans biru, tatapannya begitu tajam menghujam hadirin yang usianya jauh lebih tua dari Boni. &#8220;Selamat datang di dunia cinta,&#8221; begitu sapanya ketika mulai mendeklamasikan puisi.</p>
<p>Boni adalah salah satu dari 20 orang pembaca puisi yang malam itu membacakan puisinya di helaran Malam Puisi Cinta. Kegiatan yang dihadiri oleh penyair-penyair dari Jakarta dan Jawa Barat ini, diisi dengan kegiatan berbagi dan bercerita tentang romantisme cinta melalui puisi. Tak hanya melulu tentang keindahannya, puisi yang dibawakan pun tak jarang mempertanyakan hakikat cinta dan melihat cinta dari sisi lain kehidupan.</p>
<p>Tak hanya sebatas dibacakan, penyampaian puisi lewat musikalisasi puisi dan aksi teaterikal pun ikut menghiasi kegiatan ini. Sebut saja salah satunya Mukti Mukti. Penyair yang dikenal dengan syair dan liriknya yang menggugah ini, menampilkan beberapa langgamnya yang sudah banyak dikenal orang, seperti Mencari Matahari. Bahkan, bersama Miranda Risang Ayu, Mukti juga membawakan puisi dan lagu yang baru dibuatnya beberapa jam sebelum kegiatan.</p>
<p>Berbeda dengan Mukti, Yusef Muldiyana bersama Laskar Panggung lebih memilih teaterikal puisi untuk menyampaikan pemikirannya tentang cinta. Dikemas dalam sajian yang menarik dan sederhana, Yusef dan kawan-kawan tidak hanya mampu menghibur penonton, tapi juga mengajak mereka untuk kritis dalam mempertanyakan hakikat cinta.</p>
<p><strong>Egaliter</strong></p>
<p>Moch. S Hanief, pengelola GIM, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap sastra di Bandung. Selama ini, mereka banyak berdiskusi melalui situs jejaring sosial. Dari pertemuan di dunia maya itulah, akhirnya mereka sepakat untuk membuat sebuah acara untuk mengapresiasikan karya mereka.</p>
<p>Hanief juga menuturkan bahwa kegiatan ini dikemas secara egaliterian. Menurutnya, hal ini berfungsi sebagai ajang instrospeksi diri karya-karya yang telah dibuat para penyair. Penulis puisi yang sudah mapan, bisa melihat hasil karya dari penulis baru. Selain itu, sistem ini juga memungkinkan siapa saja dapat membaca puisi. Tidak memandang apa profesi mereka dan seberapa senior.</p>
<p>Ke depannya, kegiatan yang diinisiasi oleh GIM dan didukung oleh Majelis Sastra Bandung (MSB), Facebook Women Community (FBWC), dan voiceofbandung.com (VOB) ini, akan diselenggarakan berkala dengan tema yang berbeda-beda setiap bulannya. &#8220;Bila bulan ini mungkin tentang cinta terhadap manusia, pada bulan Ramadhan nanti mungkin bisa bertema cinta kepada Illahi,&#8221; tandas Hanief. (YPS)</p>
<p><strong>yudh </strong>on <a href="http://www.cybermosque.com/salman.php?menu=detail&amp;id=544"><em><strong>CyberMosque.com</strong></em></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1133&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/07/20/maknai-cinta-gim-luncurkan-malam-puisi-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masyarakat Banyak Salah Kaprah Soal KTP dalam Pilpres</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/07/10/masyarakat-banyak-salah-kaprah-soal-ktp-dalam-pilpres/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/07/10/masyarakat-banyak-salah-kaprah-soal-ktp-dalam-pilpres/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 01:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[CyberMosque.com]]></category>
		<category><![CDATA[Heri Bajuri]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kartu Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kartu Tanda Penduduk]]></category>
		<category><![CDATA[Kecamatan Coblong]]></category>
		<category><![CDATA[Kelurahan Babakan Siliwangi]]></category>
		<category><![CDATA[KK]]></category>
		<category><![CDATA[KPU pusat]]></category>
		<category><![CDATA[KTP]]></category>
		<category><![CDATA[Mahkamah Konstitusi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres]]></category>
		<category><![CDATA[PPS]]></category>
		<category><![CDATA[Sekretariat Panitia Pemungutan Suara]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Pemungutan Suara]]></category>
		<category><![CDATA[TPS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/?p=1131</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun berjalan lancar, Pemilu Presiden tanggal 8 Mei 2009 lalu dihiasi dengan masyarakat yang salah kaprah menggunakan KTP untuk mencontreng. Pasalnya, banyak dari mereka beranggapan bahwa dengan membawa KTP dan Kartu Keluarga (KK) saja, mereka bisa memilih di manapun. Padahal KTP dan KK hanya bisa digunakan memilih di TPS yang lokasinya bersesuaian dengan alamat yang tertera di KTP.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1131&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Meskipun berjalan lancar, Pemilu Presiden tanggal 8 Juli 2009 lalu dihiasi dengan masyarakat yang salah kaprah menggunakan KTP untuk mencontreng. Pasalnya, banyak dari mereka beranggapan bahwa dengan membawa KTP dan Kartu Keluarga (KK) saja, mereka bisa memilih di manapun. Padahal KTP dan KK hanya bisa digunakan memilih di TPS yang lokasinya bersesuaian dengan alamat yang tertera di KTP.</p>
<p>Sebut saja salah satunya adalah Iwan, bukan nama sebenarnya. Iwan yang merupakan sebuah mahasiswa perguruan tinggi di Bandung ini, dengan percaya diri datang ke Sekretariat Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kelurahan Babakan Siliwangi Kecamatan Coblong Bandung yang berada tidak jauh dari kampusnya. Remaja yang diketahui berasal dari Bandung ini, langsung menyodorkan KTP kepada panitia sembari berharap bisa memilih. Namun, ditolak lantaran tidak sesuai dengan peraturan dari Mahkamah Konstitusi.</p>
<p>Hal yang sama juga menimpa pasangan yang berasal dari Jakarta. Dengan wajah kecewa, mereka meninggalkan Sekretariat PPS Babakan Siliwangi lantaran harapan mereka untuk mencontreng di Bandung, pupus sudah. Pasalnya, sebelum tiba di Bandung, mereka beranggapan bahwa dengan hanya membawa KTP dan KK, mereka bisa memilih di Kota Kembang.</p>
<p><strong>Kurang Sosialisasi</strong></p>
<p>Heri Bajuri, Anggota PPS Babakan Siliwangi, menyatakan bahwa banyak pemilih yang salah kaprah dalam menanggapi isu memilih dengan KTP. Di PPS tempat Heri bertugas, setidaknya telah 60 orang yang bukan warganya, datang untuk memilih dengan hanya membawa KTP dan KK. &#8220;Ya, akhirnya saya tolak semua karena tidak sesuai dengan aturan dari MK,&#8221; ungkap Heri.</p>
<p>Heri melihat, ketentuan penggunaan KTP dan KK dari Mahkamah Konstitusi 2 hari sebelum pelaksanaan Pilpres, tidak secara penuh diterima dan dimengerti oleh masyarakat. &#8220;Kayanya mereka hanya membaca atasnya (judulnya) saja, tanpa membaca bagian bawahnya (detail pelaksanaan),&#8221; tutur Heri.</p>
<p>Heri juga menyayangkan kurangnya sosialisasi penggunaan KTP dan KK dalam Pilpres. Surat edaran dari KPU pusat, baru diterima sehari sebelum pelaksanaan Pilpres. Itu pun tiba pada sore hari sehingga dirinya kesulitan melakukan sosialisasi. &#8220;Bagaimana saya mau sosialisasi? Suratnya saja baru datang sehari sebelumnya. Itu pun sore pula,&#8221; papar Heri.</p>
<p><em><strong>yudh </strong></em>on <a href="http://cybermosque.com/salman.php?menu=detail&amp;id=509"><em><strong>CyberMosque.com</strong></em></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1131&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/07/10/masyarakat-banyak-salah-kaprah-soal-ktp-dalam-pilpres/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Menjaga Hati</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/07/04/pentingnya-menjaga-hati/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/07/04/pentingnya-menjaga-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 01:36:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[CyberMosque.com]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Makkah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid Salman ITB]]></category>
		<category><![CDATA[menjaga hati]]></category>
		<category><![CDATA[Syekh Ibrahim Mohammad]]></category>
		<category><![CDATA[Syekh Khaleel Lafi Al-Harbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/?p=1129</guid>
		<description><![CDATA[Hati merupakan tempat pandangan Allah. Hati diibaratkan sebagai pakaian yang kita gunakan. Kita akan selalu membersihkan pakaian yang kita gunakan lantaran akan dilihat oleh orang lain. Bagaimana pun juga, orang akan menilai kita dari pakaian yang kita gunakan.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1129&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hati merupakan tempat pandangan Allah. Hati diibaratkan sebagai pakaian yang kita gunakan. Kita akan selalu membersihkan pakaian yang kita gunakan lantaran akan dilihat oleh orang lain. Bagaimana pun juga, orang akan menilai kita dari pakaian yang kita gunakan.</p>
<p>Begitu pun dengan hati. Allah akan melihat siapa kita melalui hati. Untuk itu, senantiasalah menjaga hati agar selalu bersih seperti kita menjaga pakaian kita agar selalu indah dipandang orang lain.</p>
<p>Demikian disampaikan oleh Syekh Khaleel Lafi Al-Harbi, ulama besar Madinah, disela-sela kunjungannya ke Masjid Salman ITB pada hari Rabu, 1 Juli 2009 lalu. Didampingi oleh Syekh Ibrahim Mohammad yang berasal dari Makkah, Syekh Khaleel  berkesempatan memberikan tausiah kepada jamaah Salman tentang pentingnya menjaga hati.</p>
<p>Lebih lanjut, Syekh Khaleel mengatakan bahwa hati orang yang bersih, tercermin dari bersihnya jasad. Bagaimana pun juga, di dalam tubuh setiap manusia, terdapat segumpalan daging yang bernama hati. Bersih atau kotornya hati, menentukan sifat manusia yang memilikinya.</p>
<p>Untuk meyakinkan perihal hati yang bersih, Syekh Khaleel mengajak jamaah Salman untuk mempertanyakan mengenai hati dan hidup di dunia. Beliau mempertanyakan tentang definisi kehidupan yang berkaitan dengan hati. “Bila hati kita hidup tetapi jasad kita diam, apakah itu kehidupan atau kematian? Bila hati kita mati tetapi jasad kita bergerak, apakah itu kehidupan atau kematian?” tegas Syekh Khaleel .</p>
<p>Bagaimana pun juga, lanjut Syekh Khaleel , kehidupan kita ditentukan oleh kualitas hati kita masing-masing. Beliau mengilustrasikan dengan menceritakan perihal temannya yang dirawat di rumah sakit di Madinah. Sang teman selalu mengeluh setiap waktu.</p>
<p>Namun, di tengah keluhan temannya, seseorang di kamar lainnya, tengah bersyukur dengan mengucapkan kalimat dzikir. Ketika ditengok, ternyata orang tersebut tidak memiliki kaki dan tangan. “Apakah ini kehidupan atau kematian?” tanya Syekh Khaleel kepada jamaah.</p>
<p><strong>Cara Menjaga Hati</strong></p>
<p>Sebelum mengakhiri tausiahnya, Syekh Khaleel berpesan kepada jamaah Salman untuk senantiasa menjaga kebersihan hati. Pesan yang pertama, adalah bersihkan hati dari syirik. Hal ini bisa dilakukan dengan menguatkan ketauhidan. Caranya pun cukup mudah, yaitu dengan menundukan hawa nafsu.</p>
<p>Pesan yang kedua adalah membersihkan hati dari kesombongan. Hal ini bisa dilakukan dengan mencoba bersikap rendah hati dan tidak melihat dirinya lebih baik dari orang lain. Dalam hal ini, Syekh Khaleel mengajak jamaah untuk memohon kepada Allah agar menumbangkan pohon kesombongan yang tumbuh dalam hati.</p>
<p>Pesan yang ketiga, Syekh Khaleel juga mengajak peserta untuk membersihkan hati dari iri dan dengki. Meskipun begitu, iri dan dengki diperbolehkan asal digunakan dalam kebaikan.</p>
<p>Selain ketiga pesan tersebut, Syekh Khaleel juga menegaskan jamaah untuk senantiasa memeriksa hatinya masing-masing. Selain itu, dirinya juga menekankan kepada jamaah untuk senantiasa berdoa dengan penuh pengharapan kepada Allah agar hati kita dibersihkan oleh-Nya. Bersungguh-sungguh untuk membersihkan hati dan bersahabat dengan orang-orang yang baik, juga menjadi dua hal yang harus dilakukan manusia agar hatinya bisa tetap bersih.</p>
<p><em><strong>yudh </strong></em>on <a href="http://cybermosque.com/salman.php?menu=detail&amp;id=490"><em><strong>CyberMosque.com</strong></em></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1129&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/07/04/pentingnya-menjaga-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bersikap Netral, Salman ITB Hanya Izinkan Boediono Jumatan</title>
		<link>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/06/24/bersikap-netral-salman-itb-hanya-izinkan-boediono-jumatan/</link>
		<comments>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/06/24/bersikap-netral-salman-itb-hanya-izinkan-boediono-jumatan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 01:33:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[Calon Wakil Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[CyberMosque.com]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi syariah]]></category>
		<category><![CDATA[KALAM Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[masjid Salman ITB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretankelambu.wordpress.com/2009/07/11/1126/</guid>
		<description><![CDATA[Kedatangan Calon Wakil Presiden, Boediono, di masjid Salman Jumat, 19 Juni 2009 lalu, ditanggapi biasa-biasa saja oleh pengurus. Bahkan, keseriusan pihak Salman ITB untuk tetap netral dan tidak berpolitik, diperlihatkan sungguh-sungguh dengan hanya mengizinkan Boediono menunaikan shalat Jumat.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1126&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kedatangan Calon Wakil Presiden, Boediono, di masjid Salman ITB Jumat, 19 Juni 2009 lalu, ditanggapi biasa-biasa saja oleh pengurus. Bahkan, keseriusan pihak Salman ITB untuk tetap netral dan tidak berpolitik, diperlihatkan sungguh-sungguh dengan hanya mengizinkan Boediono menunaikan shalat Jumat.</p>
<p>Agus Saparudin, salah satu Manajer Salman ITB, menyatakan bahwa awalnya Boediono mengajukan tiga permintaan terkait kedatangannya ke Masjid Salman. Dari tiga jumlah tersebut, pihak Salman hanya memenuhi satu permintaan, yaitu menyelenggarakan sholat Jumat di masjid Salman.</p>
<p>Sedangkan dua permintaan lainnya, yaitu: berdiskusi dengan jamaah tentang ekonomi syariah dan peresmian pembentukan KALAM Indonesia, tidak dapat dikabulkan lantaran sarat muatan politik. “Kalau sholat Jumat sih kita izinkan lantaran siapa saja boleh melakukannya. Tapi yang lainnya tidak,” tandas Agus Saparudin, Manajer Umum Masjid Salman ITB.</p>
<p>Ketika ditanya mengenai posisi duduk Boediono ketika sholat Jumat yang diberi shaf pertama padahal datang terakhir, Agus mengakui bahwa dirinya tidak mampu berkuasa akan hal tersebut. “Itu adalah aturan protokoler,” tandasnya.</p>
<p>Meskipun begitu, Agus sependapat dengan komentar jamaah yang menyatakan bahwa seharusnya orang mendapatkan posisi duduk sesuai dengan waktu kedatangannya. “Yah, itu masalah kebiasaan di negara kita saja,” tutur Agus.</p>
<p><em><strong>yudh </strong></em>on <a href="http://cybermosque.com/salman.php?menu=detail&amp;id=458"><em><strong>CyberMosque.com</strong></em></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretankelambu.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretankelambu.wordpress.com/1126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretankelambu.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretankelambu.wordpress.com/1126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretankelambu.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretankelambu.wordpress.com/1126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretankelambu.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretankelambu.wordpress.com/1126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretankelambu.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretankelambu.wordpress.com/1126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretankelambu.wordpress.com&blog=2306299&post=1126&subd=coretankelambu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretankelambu.wordpress.com/2009/06/24/bersikap-netral-salman-itb-hanya-izinkan-boediono-jumatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2bf24bd2ebfc0a67816aef8da73fc5b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Yudha P Sunandar</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>