Ekspresi Bermusik Tanpa Pakem ala POW Ensemble
Musik, sebagai bahasa universal, ternyata tak melulu harus eksplisit disampaikan dengan lirik-lirik yang lugas dan syair yang berirama. Kebebasan berekspresi dalam bermusik pun tak mesti mengikuti pakem yang ada. Meskipun begitu, pesan yang ingin disampaikan dalam bermusik tetap bisa dikomunikasikan antara musisi dan audiens.
Hal inilah yang tersirat dalam pertunjukan POW Ensemble, sebuah kelompok musik elektrik asal Belanda, di Auditorium CCF Bandung pada Kamis, 11 Juni 2009 lalu. Digawangi oleh Luc Houtkamp (komputer), Guy Harries (komputer), dan Wiek Hijmans (gitar), pertunjukan bertajuk Strange Attractors ini mampu menggugah decak kagum sekitar 50 orang penonton Auditorium CCF Bandung.
Komposisi bermusik POW Ensemble terdiri dari 2 komputer dan sebuah gitar elektrik. Suara petikan gitar, diolah kembali oleh komputer dan digabungkan dengan suara-suara lain yang menarik dan unik. Bahkan tak jarang mereka menggunakan alat-alat di luar instrumen musik, seperti gelas dan sendok. Perpaduan nada yang tidak biasa ini lah akhirnya menghasilkan alunan musik yang baru dan merujuk kepada identitas musik kamar masa kini.
Dari segi warna musik, POW Ensemble pun tak melulu mengikuti satu pakem warna musik tertentu. Dengan lincahnya mereka mampu menggabungkan dan berpindah dari satu warna musik ke warna musik lainnya tanpa harus mengorbankan identitas bermusik mereka.
Konsep musik yang disajikan POW Ensemble cenderung berbeda dengan konsep bermusik kebanyakan orang Indonesia. Bila selera musik Indonesia cenderung mengikuti ritme dan pakem tertentu, hal ini tidak akan terlihat dalam permainan POW Ensemble. Begitu bebas, sehingga terkadang penonton sulit menterjemahkannya. Bahkan tak jarang alunan musik disajikan dengan gaya opera. Hal ini memperlihatkan bahwa kebebasan berekspresi, mereka luapkan dengan alunan nada yang lepas dari warna, pakem, dan ritme musik pada umumnya.
Aneh tapi Menarik
Dengan konsep yang tidak biasa tersebut, tak heran apabila musik yang mereka sajikan agak sulit diterima oleh kebanyakan penikmat musik di Indonesia yang terbiasa dengan pakem dan ritme. Meskipun begitu, musik POW Ensemble bagi beberapa kalangan justru menarik.
“Musiknya keren,” tutur Maya Kartika Soentoro, musisi muda asal Bandung. Menurut Maya, POW Ensemble memang menyajikan nada-nada tidak secara eksplisit dan cenderung absurb. Bahkan terkadang ada nada-nada yang sengaja fals. Justru melalui nada-nada itulah mereka bercerita.
Maya juga mengungkapkan kemampuan bermain personil POW Ensemble juga cukup mahir. Maya mencontohkan dengan Wiek Hijmans. Sang gitaris mampu memainkan beberapa musik yang versi aslinya menggunakan instrumen piano. “Padahal kan itu nggak gampang,” tandas Maya kagum.
Musik Seni Saat Ini
Aditya Indro, Tour Manager POW Ensemble selama di Indonesia, mengatakan bahwa POW Ensemble merupakan kelompok musik yang mencoba memperkenalkan kemungkinan-kemungkinan baru di musik instrumen. Mereka tidak hanya menyajikan art music, tetapi juga menggabungkannya dengan popular music.
Ketika ditanya warna musik POW Ensemble, Dito, panggilan akrab Aditya, menuturkan bahwa musik POW Ensemble bergenre kontemporer. Tetapi dirinya lebih senang menyebutnya dengan julukan musik seni saat ini.
Selain mengadakan pertunjukan, POW Ensemble juga menyelenggarakan workshop musik elektrik di beberapa tempat di kota di Indonesia yang disinggahinya, seperti di Teater Salihara Jakarta dan Common Room Bandung. Selain berbagi ilmu tentang musik elektrik, workshop ini juga ditujukan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan bunyi baru selama bertandang ke Indonesia.
yudh on CyberMosque.com
nice…
Donie
Rebo, 8 Juli 2009 pukul 18:09
[...] post are english version from Ekspresi Bermusik Tanpa Pakem ala POW Ensemble. Thank to Mr. Google who help me to translate to english [...]
Music Expression Without Grip in the Style of POW Ensemble « Coretan dari Balik Kelambu…
Ahad, 14 Juni 2009 pukul 22:25