Coretan dari Balik Kelambu…

Archive for April 2009

Meski Sulit Berjalan, Hamid Tetap Berjualan Sapu

kalawan 2 pairan

Perlahan mentari sore mulai turun di ufuk barat kota Bandung. Saat itu, lalu lintas kota Kembang lambat laun mulai padat. Orang-orang mulai ramai berlalu-lalang. Beranjak menuju rumah setelah seharian bekerja.

Seorang lelaki paruh baya tampak jelas terlihat di antara keramaian Bandung di waktu sore. Tangan kanannya menggenggam sebuah tongkat penyangga yang digunakan untuk membantu langkahnya menapaki setiap Centimeter jalanan kota Bandung. Sementara itu, pundak kirinya memanggul 10 batang sapu yang harus dia jual guna menafkahi keluarganya yang berjarak 100 Kilometer dari Bandung.

Hamid Hidayat (45) namanya. Berdagang sapu di Bandung telah dilakoninya selama 20 tahun guna menghidupi seorang istri dan 4 anaknya di Ciamis. “Dulu saya dagang sapu dipinggul pake tongkat,” cerita Hamid. Namun naas baginya 18 bulan lalu. Sebuah motor yang dikendarai seorang pelajar SMA, menabraknya hingga akhirnya Hamid mengalami cacat tubuh permanen dan harus menggunakan tongkat untuk berjalan.

Meskipun begitu, penduduk Lumbung, Desa Sadewata, Babakan Tarikolot, Ciamis ini tidak mau begitu saja menyerah pada keadaan. Dengan pinjaman 300 ribu Rupiah, Hamid kembali berjualan sapu, meski yang dibawanya kini lebih sedikit dari sebelumnya, yakni hanya 15 sapu. Hal ini dipersulit dengan ketentuan yang mengharuskan Hamid membayar penuh sapu yang diambilnya untuk dijual. “Sapunya tidak boleh dikembalikan kalau tidak laku,” keluh Hamid.

Setiap harinya, Hamid biasa berjualan selepas Dzuhur. Jarak yang ditempuh pun lumayan jauh untuk kondisi Hamid saat ini. Bermula dari wilayah Kebon Kawung tempat Hamid tinggal dengan saudaranya, dia biasa menempuh rute menuju Balai Kota yang dilanjutkan menuju BEC, Purnawarman, kemudian Taman Sari hingga Sulanjana. Hamid biasa menempuh jalur pulang menuju jalan Dago, Merdeka, dan kembali ke Kebon Kawung.

Namun tak jarang Hamid berjualan hingga ke jalan Ganesha, Dipati ukur, hingga jalan Riau. Hal yang mengagumkan, Hamid menempuhnya dengan berjalan kaki. Hasil penjualannya pun tidak pernah tetap. Terkadang barang jualannya dalam sehari bisa habis, hanya terjual 2 hingga 4 sapu, atau bahkan tidak pernah laku sama sekali dalam sehari berjualan. “Ya, namanya juga dagang. Tidak pernah stabil yang terjual,” ungkap Hamid bijak.

Ketika disinggung mengenai keluarganya, Hamid mengaku sering merasa kangen dan ingin bertemu, meskipun hal tersebut baru bisa dilakukannya ketika penjualannya untung. Namun, ketika rasa kangen tak dapat dibendung dan hasil penjualan belum menampakan hasil, tak jarang Hamid harus meminjam uang terlebih dahulu untuk pulang kampung.

Tak hanya itu saja. Hamid pun mengharapkan bisa berjualan sambil duduk dan dekat dengan keluarga. “Ternyata sekarang mikulnya berat dan cangkeul (pegel),” keluh Hamid. Saat ditanya mengenai kendala yang dihadapi untuk mewujudkan harapannya itu, pria yang hanya bersekolah hingga kelas 5 SD ini mengaku tidak punya modal yang cukup. “Padahal tanah milik istri saya bisa digunakan. Tapi belum ada dana untuk membangunnya,” tutur Hamid.

yudh on CyberMosque.com

Written by Yudha P Sunandar

Senén, 27 April 2009 pukul 16:21

Peduli Siswa SLB, Blogger Sumbang Alat Musik

without comments

Kepedulian terhadap siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) tidak hanya berhenti pada rasa kasihan semata. Membantu apa yang dibutuhkan, nampaknya lebih berarti untuk mereka. Didorong kepedulian terhadap sesama, sejumlah blogger Bandung pada Sabtu, 18 April 2009 lalu memberikan sumbangan alat musik untuk kebutuhan kegiatan belajar-mengajar di SLB-BC YPLAB Banjaran, Bandung.

Tergabung dalam komunitas Bandung Kota Blogger (Batagor), mereka mengumpulkan dana untuk dibelikan alat musik yang dibutuhkan oleh SLB. “Akhirnya terkumpul dana 2 juta lebih yang kami gunakan membeli keyboard baru untuk SLB,” tutur Shasya Pashatama, koordinator kegiatan tersebut. Tak hanya mengumpulkan dana. Para blogger pun mengumpulkan alat-alat musik bekas yang masih bisa digunakan. Hasilnya, selain sebuah keyboard baru, 2 gitar dan 1 set angklung bekas berhasil dikumpulkan dan disumbangkan ke SLB.

Ketika ditanya mengenai latar belakang kegiatan ini, Shasya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan penjabaran dari konsep Blogging for Society yang rutin diselenggarakan oleh komunitas Batagor. Blogging for Society sendiri merupakan konsep yang merujuk pada kegiatan blogging berdampak positif terhadap masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya merujuk pada kegiatan memberi sumbangan, tetapi juga melakukan kegiatan lainnya seperti kampanye dan edukasi masyarakat.

Kegiatan ini pun bukan satu-satunya kegiatan Blogging for Society yang dilakukan oleh Batagoris, sebutan blogger yang tergabung dalam komunitas Batagor. Bebersih Bandung, Yuk! (BBY) dan Blogger Peduli Anak Yatim Piatu (Gardu Lantu) adalah kegiatan lain bertemakan Blogging for Society yang kerap diselenggarakan oleh Batagor. “Bahkan kegiatan Gardu Lantu akan menginjak kali ketiga pertengahan tahun ini,” tambah Shasya.

Selain diinisiasi dan dimotori oleh Batagor, kegiatan ini juga didukung oleh Persatuan Alumni Jerman (PAJ), komunitas Bandung Blog Village (BBV), Komunitas Flexter Jabar, dan Telkom Flexi. Ke depannya diharapkan dengan adanya kegiatan seperti ini, akan ada lebih banyak pihak yang ikut serta dan terbantu.

Merasa Terbantu

Ratna Suciati, Kepala SLB-BC YPLAB Banjaran, Bandung, mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan alat musik dari komunitas Batagor. “Tidak hanya alat musik yang kurang di sini, kami juga kekurangan fasilitas komputer untuk keperluan kegiatan belajar mengajar,” jelas Uci, panggilan akrab Ratna. Disampaikan oleh Ratna, SLB yang berdiri sejak tahun 1985 ini, berusaha mendidik anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, meskipun fasilitas yang dimiliki sangat terbatas.

Selain menyampaikan rasa terima kasihnya, Ratna juga menggugah Batagoris untuk lebih peduli kepada mereka yang memiliki kebutuhan khusus. “Melihat mereka, mengingatkan kita atas keagungan Tuhan,” ungkap Ratna dalam sambutannya. Tak hanya itu saja. Pembacaan deklamasi oleh Intan, siswa tuna rungu-wicara SLB tersebut, pun berhasil membuat Batagoris yang ikut ke lokasi, terharu dengan apa yang mereka lihat. “Ya Allah. Saya sangat tersentuh dan hampir-hampir menangis,” ungkap Opie, seorang blogger yang beralamat di opiepippo.com.

yudh on CyberMosque.com

Bekal dari Rumah

kalawan 4 pairan

beberapa bulan belakangan ini, entah kenapa saya merindukan sesuatu yang ketika smp dan sma saya selalu bawa. sebuah benda yang bila dibuka dan digunakan dengan benar, bisa mengobati rasa lapar yang kerap menyerang ketika jam makan tiba. terlebih lagi, benda ini tak jarang bisa mempererat persahabatan saya dan teman ketika saya masih mengenakan seragam biru tua dan abu-abu.

benda tersebut adalah bekal makan siang yang selalu ibu saya siapkan ketika saya hendak pergi ke sekolah ketika saya masih harus mengenyam bangku pendidikan smp dan sma. isinya pun beragam: dimulai hanya nasi kuning yang dibeli di deket rumah, nasi beserta telor ceplok seadanya, hingga makanan yang sengaja ibu saya masak untuk bekal saya hari itu.

ketika jam makan siang tiba, saya kerap menikmati hidangan tersebut dengan lahap. biasanya, jam2 sgitu perut udah teriak2 minta diisi. tidak jarang saya juga berbagi bekal yang saya bawa dengan teman yang kebetulan harus berada di sekolah hingga sore hari. bahkan gara2 kebiasaan ini, saya bisa dekat dengan cewe cantik yang boleh dibilang salah satu bintang di sekolah saat itu.

kebiasaan membawa bekal dari rumah ini berlangsung cukup lama, sekitar 4 tahunan, yaitu: dari mulai saya kelas 1 smp hingga menjelang kelas 2 sma. dan entah kenapa, saya senang melakukannya. orang tua pun tidak pernah menyuruh, apalagi memaksakan kebiasaan ini. semuanya seakan berjalan dengan sendirinya.

kebiasaan ini mulai saya tinggalkan ketika memasuki kelas 2 sma. pasalnya, ketika itu saya mulai beraktivitas di tempat yang memungkinkan saya bisa makan siang. terlebih lagi, menjelang semester 2 di kelas 2, saya mulai bekerja paruh waktu di sebuah majalah khusus pelajar. karena saat itu saya sudah resmi menjadi karyawan, tentunya saya pun mendapatkan jatah makan siang dan makan sore. hal ini membuat kebiasaan membawa bekal makan siang, terlupakan sudah.

nampaknya rasa rindu terhadap kenangan akan kebiasaan ini muncul kembali akhir2 ini. dan yang jadi masalah, saya tidak mungkin untuk melakukannya saat ini lantaran cukup disibukan dengan pekerjaan yang cenderung memerlukan sesuatu yang praktis, termasuk makan siang. mudah2an, ketika saya berkeluarga nanti, kebiasaan membawa bekal dari rumah bisa saya lakukan kembali. semoga…

Written by Yudha P Sunandar

Senén, 13 April 2009 pukul 15:24

Dimuat dina Umum