Archive for Désémber 16th, 2008
The Devil’s DNA: Syarat Inspirasi Namun Kurang Aksi
tepat pada tahun 1983, seorang anak berusia 17 tahun bernama julian vega dituduh membunuh seorang dokter muda bernama allison wallis. francis loughlin, seorang detektif yang menangani kasus tersebut, akhirnya berhasil membuat julian terdampar di penjara hingga 20 tahun kemudian. julian bebas bersyarat dan dakwaan pembunuhan tersebut terancam dicabut lantaran julian menuntut untuk diadakan kembali penyidikan atas kasus yang didakwakan padanya. bagaimana pun juga, julian tetap bersikukuh tidak pernah melakukan hal tersebut.
sejalan dengan itu, christine rogers, seorang dokter muda, tewas secara mengenaskan di kamar mandinya. di kukunya, terdapat darah yang ternyata sama dengan darah di bawah kuku alison wallis yang tewas 20 tahun lalu. francis kemudian menuduh julian atas pembunuhan tersebut. dengan teknik analisis dna yang telah berkembang, tidaklah sulit untuk francis menemukan siapa orang di balik 2 pembunuhan tersebut.
akhirnya, julian dibebaskan karena tidak terbukti bersalah. sang pembunuh, yang tidak lain adalah kakak kandung allison wallis, tom wallis, tewas yang oleh francis diduga akibat bunuh diri.
ditulis oleh peter blauner, the devil’s dna berhasil mendapat predikat the international bestseller. diterbitkan di indonesia oleh dastan books, novel ini memang syarat inspirasi. bagaimana tidak. beberapa bagian dari kisahnya menampilkan beberapa alur cerita yang cukup unik dan tidak biasa. bahkan, dari situ beberapa cerita untuk novelnya bisa muncul dan berkembang.
meskipun begitu, novel ini kurang mampu membawa detail2 setiap kejadian ke benak pembaca. rasanya, ada beberapa kejadian yang seharusnya diceritakan, tapi tidak diceritakan dengan rinci. lompatan2 peristiwa sering terjadi sehingga menimbulkan sedikit ketidakpuasan dalam membacanya. berbeda dengan novel da vinci code yang benar2 begitu terperinci dalam mengisahkan setiap kejadian. tak hanya itu saja. nampaknya tendesi2 psikologis kurang terjadi di sini sehingga novel ini nampak datar2 saja.
selain itu, judul dan tulisan di halaman novel edisi indonesia: “satu pembunuhan berantai tak pernah cukup. baginya, membunuh adalah candu terkuat, hasrat terluhur, ekspresi cinta termanis…” tidak menggambarkan apa yang diceritakan dalam novel tersebut. yang terbayang ketika membaca judul dan penggalan kata2 tersebut, kita akan dihadapkan pada kisah yang menegangkan dari kacamata pembunuh berantai. tetapi kenyataannya justru lain. malah kita dihadapkan pada cerita tentang seorang pemuda yang dikejar2 tuduhan tak bersalah atas 2 pembunuhan yang memang tidak dia lakukan.
meskipun begitu, novel ini layak dibaca, apalagi bagi anda yang menginginkan sisi lain dari sebuah kasus pembunuhan. alih2 mendapatkan cerita pembunuhan yang menakutkan, novel ini justru mengajak anda untuk bersimpati pada seseorang yang dikucilkan oleh masyarakat lantaran perbuatan yang tidak dia lakukan. selain itu, tak jarang kita sebal dengan asumsi2 francis yang acuh tak acuh terhadap prinsip azas praduga tak bersalah dalam setiap penyelidikannya. well, bintang 3 untuk novel ini.
Sore Sebuah Kenangan
matahari mulai turun dari tahtany. ketika itu, hujan rintik2 mulai mengguyur seisi kota. orang2 mulai berlalu-lalang dengan cepatnya. menyambar setiap tempat yang bisa digunakan untuk berteduh.
terdiam sendiri, berteduh aku di pelataran sebuah mall sembari menunggu kedatangan seseorang. diselimuti janji, aku tetap setia, walau hujan mulai membasahi jalanan yang semenjak tadi mulai padat akibat tak sabaran orang untuk tiba di rumah tepat waktu. sembari melihat2 sekitar, sesekali mata ini menatap arloji yang hampir tiba di pukul 5 sore.
dari kejauhan, seorang wanita berjilbab merah muda yang berpadu serasi dengan rok dan pakaian dengan warna serupa, yang tergesa2 datang menerobos hujan menggunakan payung berwarna cokelat. langsung aku mengenalinya sebagai icha dari senyum manisnya ke arahku.
“hai, apa kabar?” sahutku membuka perbincangan.
“baik,” dengan senyum khasnya. “udah lama nunggu?”
“baru, kok,” jawabku singkat.
icha adalah teman smaku yang kini telah bekerja di yogyakarta. sesekali waktu, dia main ke bandung untuk sekedar bertegur sapa dengan kawan2 semasa remaja. setelah lama tak berjumpa, kali ini tiba giliranku untuk melepaskan kerinduan mengenang masa sekolah dulu dengannya.
“ngobrol di mana kita?” tanyaku ringkas.
“food court?” jawab sekaligus tanyanya. aku langsung mengangguk tanda setuju.
sembari melangkah menuju tempat tujuan yang 3 lantai jauhnya, kami mengobrol.
“gimana kabar cinta?” tanyaku membuka perbincangan sore itu. “katanya udah nikah yah? sama agus, bukan?” lanjutku. perbincangan akhirnya terbuka dengan sendirinya. bercerita mengenai banyak kawan lama. ada yang kerja di luar negeri, menikah, menjadi dosen. malah tak jarang kabar kematian tersampaikan dari mulutnya.
setibanya di food court, kami langsung memilih tempat duduk. dua buah sofa dengan 1 meja memisahkannya, menyambut kami. di sebelahnya, terbentang pemandangan sore bandung dari sebuah kaca yang sedikit basah terkena tetesan air dari langit. tak lama kemudian, hidangan yang kami pesan, datang saling bersambut. dua porsi nasi goreng dengan 2 gelas cokelat hangat, menemani kebersamaan kami sore itu.
“dari tadi kita ngomongin orang, tapi dirimu sendiri belum kutanyakan kabarnya,” komentarnya. “ngomong2, apa kegiatanmu sekarang, di?”
“tak banyak. hanya menulis untuk beberapa media,” jawabku singkat.
“penulis? keren, dong,” komentarnya. dengan lugunya, aku menyeringai malu2.
“kamu juga masih jadi wartawan, kan?” balasku bertanya.
“yah, begitulah. perkerjaan yang sulit kutinggalkan. aku sudah tidak bisa pindah ke lain hati. pekerjaan ini terlalu menarik untuk kutinggalkan,” icha berkomentar.
yah, pekerjaan itu memang sulit ditinggalkan olehnya. bagaimana tidak. masih teringat jelas bagaimana sewaktu sma dulu, dia begitu terobsesi menjadi jurnalis. memulai menjadi wartawan sma, bukanlah awal yang buruk baginya waktu itu. sosoknya, tak pernah beranjak dari beberapa berita menghebohkan di sekolah. dari mulai korupsi kepala sekolah, hingga perselingkuhan ketua osis, pernah ditulisnya yang membuat namanya tak akan pernah lekang dari ingatan kawan2 1 angkatannya.
“oh yah. bagaimana kabar ani? masih kah kalian berkecimpung dalam dunia kesusastraan?” icha balik bertanya.
“entahlah. kabarnya dia sudah menikah dan punya 1 anak kini. semenjak lulus sma, aku sudah tak pernah bertemu dengannya lagi,” uraiku menjawab pertanyaannya. “kamu sendiri, kapan nyusul?” ledekku pada icha.
dia hanya tertawa dengan anggun membalas pertanyaanku. “entahlah. nunggu yang ngelamar. lagian, aku juga masih senang sendiri,” jawabnya dengan nada setengah becanda.
banyak perbincangan yang kami lalu hingga kami tak sadar bahwa mentari telah turun di ufuk barat. gelap berganti menyelimuti bandung yang tengah diguyur hujan, yang tidak deras, tidak juga kecil. di sela2 itu, suara adzan maghrib sayup2 berkumandang tepat ketika dentangan waktu menunjuk pukul 6 sore.
“kukira sudah waktunya kita menyudahi sore ini,” ungkapku kepada icha.
“yah, kukira begitu. ini kartu namaku,” sahutnya sembari memberikan sebuah kartu nama bertuliskan nama beserta telepon dan email pribadinya. di kiri atas, tercantum logo dan nama majalah tempatnya bekerja, jala media.
“oh yah. ini kartu namaku juga,” ucapku sembari menyerahkan kartu bertuliskan nama adi triyana agung.
“makasih yah udah nyempetin ngobrol2 sore ini. sampai jumpa lagi,” lanjutku.
“makasih juga yah. semoga kita jumpa lagi,” timpalnya mengakhiri sore itu dengan senyum persahabatan.
hujan seakan2 tak ingin berhenti mengguyur bandung malam itu. seperti menyambut kerinduan 2 orang teman yang tak ingin kenangan2nya terhapus oleh zaman dan kesibukan dunia. tetap setia mengukir barisan2 memori masa lalu. hingga suatu saat nanti, tak akan ada yang tersisa dari mereka kecuali rasa bangga karena telah mempunyai sahabat sejati seperti mereka.