Akhirnya, Terjawab Juga Eksistensi Tuhan
sudah sejak lama aku mempertanyakan tentang eksistensi ketuhanan. dimulai dari seperti apakah tuhan, di manakah tuhan, mengapa tuhan menciptakan makhluk dan alam semesta ini, apakah dunia ini hanya skenario tuhan, hingga pertanyaan yang sangat fundamentalis, benarkah tuhan ada? beberapa jawaban terkadang tidak puas terasa, meskipun telah dicoba melalui pendekatan agama. namun tetap saja, itu belum meredakan kehausanku akan pertanyaan mengenai tuhan.
pertanyaan yang paling awal tentang tuhan hinggap di pikiranku sejak aku beranjak di kelas 3 sekolah dasar dulu. ketika itu, aku mempertanyakan di manakah tuhan ketika seluruh alam semesta ini belum diciptakan? dan beberapa tahun setelah itu, pertanyaan itu berhasil ku jawab dengan perasaan yang cukup memuaskan.
rangkaian pertanyaan itu membuatku tumbuh dengan visi mencoba menyingkap pertanyaan mengenai hakikat ketuhanan dan alam semesta yang tuhan ciptakan. pernah terpikir untuk masuk kuliah jurusan teologi atau filsafat. namun selepas kelas 3 sekolah menengah atas, keinginan itu tiba2 saja hilang. dan baru setelah lulus kuliah, keinginan itu muncul kembali. meskipun pada akhirnya kandas kembali akibat keadaan yang tidak memungkinkan.
tapi, tak disangka, sebuah novel mampu menjawab dan meredakan kehausanku akan hakekat tuhan. sebuah novel berjudul ‘iblis menggugat tuhan’ telah membuatku kagum dan mengubah paradigmaku terhadap tuhan. lebih dari itu, lebih yakin untuk menerima kehadiran tuhan.
pelajaran yang paling besar yang kuterima dalam buku itu adalah kalimat, “penghambaan sepenuhnya kepada tuhan bermakna bahwa perbuatannya bukanlah untuk kau pahami.” kalimat tersebut bukan berarti tuhan tidak mau untuk dipertanyakan. sepintar apapun seorang manusia, tak akan mampu mengukur tuhan. apalagi membandingkannya dengan sesosok manusia yang jelas2 makhluk ciptaannya. “jagat ini milik tuhan tapi tuhan bukanlah jagat itu sendiri. tuhan mendefinisikan ciptaan, tapi tidak terdefinisikan oleh ciptaan. tuhan memiliki, tapi tidak dimiliki. tuhan melebihi, tapi tak bisa dilebihi. … tuhan adalah tuhan yang tak bisa dipahami melalui ciptaan tuhan. dan ciptaan tuhan tak akan mungkin dipahami kecuali melalui tuhan,” begitulah kira2 seharusnya kita memandang tuhan, seperti apa yang disampaikan oleh shawni, sang penulis buku the madness of god.
beberapa tahun yang lalu, aku mengenal sebuah istilah “memanusiakan tuhan”. sebuah istilah yang merujuk pada menempelkan segala atribut2 manusia terhadap tuhan. hasilnya, orang kerap kali meragukan kebesaran tuhan lantaran tuhan dipandang sebagai seorang manusia. dan baru kali ini aku memahami betul makna itu yang ternyata memiliki efek yang cukup besar terhadap pandangan manusia dalam meyakini tuhannya. seperti apa yang disebutkan dalam buku tersebut, “tuhan bukan untuk dihakimi, tidak pula standar2 manusiawi dapat diterapkan pada tuhan.”
satu hal lagi, tuhan adalah tak terbatas. bila terbatas, jelas dia adalah makhluk. alih2 sebuah gambar, kata2 pun tak akan mampu melukiskan tuhan yang tak terbatas. bahkan kata “tak terbatas” sendiri tidak mampu melukiskan tuhan karena tuhan tidak pernah mampu dilukiskan oleh apa pun yang merupakan ciptaannya. karena, jika mampu dilukiskan, “ia tak akan pantas menyandang nama tuhan.”
mas Yuhda, saya mau tanya kenapa didunia ini ada kejahatan, peperangan pembunuhan, mengapa tuhan diam saja… apakah nasib manusia ini ditentukan oleh tuhan atau oleh manusia itu sendiri? kalau memang ditentukan oleh tuhan mengapa manusia perlu bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu. kalau tidak ditentukan, mengapa ada istilah “sudah takdir”???
nur
Salasa, 30 Désémber 2008 pukul 14:50