Filsafat Matematika
hari ini ada rapat dengan mba dame dari common room. rapatnya ngobrolin mengenai program kerjasama antara klub linux bandung, common room, dan yayasan ibu. awalnya kita berdua membicarakan mengenai aplikasi open source yang akan diajarkan ke anak2 sd dan smp yang akan menjadi peserta program ini. tapi ujung2nya ngobrolin matematika. ternyata mba dame adalah sarjana lulusan jurusan matematika ui. dari kecil dulu, dia udah punya cita2 buat jadi profesor matematika.
satu hal yang menarik, mba dame ngobrolin mengenai filsafat matematika. suatu hal yang seharusnya kita pelajari disaat kita mempelajari matematika. filsafat matematika adalah semua jawaban mengenai mengapa kita harus belajar matematika. jawaban mengapa kita harus belajar limit, integral, logaritma, dan lain2 yang sepertinya nggak akan kita pake kalo kita kerja dimanapun, kecuali di bidang2 yang berhubungan langsung dengan matematika.
mba dame juga menjelaskan bahwa matematika adalah sebuah cara membentuk dan mengubah pola pikir kita. dari yang nggak terstruktur, menjadi terstruktur. dari yang tadinya nggak beralasan, jadi beralasan. dia juga nyeritain kalo di jurusan hukum di harvard university, pelajaran semester 1 dan semester 2 adalah kalkulus yang setara dengan pelajaran jurusan kalkulus. selain itu, dia juga beragumen bahwa segala ilmu yang ada nggak terlepas dari matematika. contohnya aja ilmu manajemen. ternyata ilmu ini juga nggak terlepas dari bagaimana kita menganalisis dari hubungan sebab-akibat yang terjadi. pokoknya amazing banget deh penjelasan dari mba dame.
hal yang paling penting hari ini, aku berhasil nemuin mengapa matematika disebut sebagai ibu dari segala ilmu. selain itu, aku juga nemuin mengapa para filsuf2 terkenal di masa lampau, pasti adalah seorang yang jago di bidang matematika. wah, jadi makin semangat belajar filsafat nih. apalagi filsafat matematika, pasti asyik… mudah2an bisa dapet bukunya…
semoga…
Kebetulan saat ini saya sedang memberi pelajaran tambahan matematika untuk anak2 SD. Saya katakan kebetulan karena background saya bukan guru Matematika , sedih dan ngeri melihat anak2 tidak mengerti Matematika , mereka hanya ngapalin rumus thok ! tanpa mengerti ! Lebih ngeri lagi ketika saya terjun didalamnya, banyak soal-soal yg tidak membumi, tidak dipake untuk kehidupan sehari-hari. Bagaimana menerangkan kegunaan matematika untuk anak seusia mereka ? Saya pernah baca buku filsafat matematika, kalo tidak salah pengarangnya : Eko Prasetyo dan seorang ibu , tapi tentunya ini “ketinggian” buat anak2. Buku apa yang pas untuk saya baca sehingga bisa disampaikan dengan mudah kedalam bahasa anak2 ? Terimakasih dan saya tunggu referensinya
KunST (sukamat)
Saptu, 4 Juli 2009 pukul 16:09
Bukankah dalam filsafat kita selalu mengenal kontradiksi, misalnya 2+3 tidk sama dgn 3+2..
Apakah anda setuju dengan hal tersebut??
Kalo iya, apakah dalam hidup selalu ada koontradiksi??
Lalu apa yang di maksud paradoks dalam filsafat matematika??
an_sky
Jumaah, 1 Méi 2009 pukul 07:55
terima kasih pertanyaanny. tapi sebelumny, saya belum ngerti, apa yang dimaksud ’sejarah sebagai sentral untuk filsafat matematika’? bisa diterangkan lebih detail lagi? sejarah yang mana? sentral seperti apa?
justru, yang saya amati, filsafat matematika merupakan salah satu sentral sejarah dunia. terlihat sekali bagaimana dunia ini di bangun dengan menggunakan filsafat matematika melalui sistem yang sangat teratur dan detail. lihatlah pembangunan piramida hingga borobudur yang semuany memperlihatkan bagaimana filsafat matematika bekerja di dalamny. saya kurang tau apakah anda udah baca postingan saya yang lainny terkait dengan filsafat matematika. tapi saya sarankan anda juga membaca postingan saya di sini
semoga bermanfaat
Yudha P Sunandar
Kemis, 9 Oktober 2008 pukul 23:43
tlg dijawab dech.,thanks
risma
Kemis, 9 Oktober 2008 pukul 17:26
saya tertarik dengan filsafat matematika tapi sulit banget dipahami.mengapa sejarah merupakan sentral untuk filsafat matematika
risma
Kemis, 9 Oktober 2008 pukul 17:22
terima kasih atas tanggapannya. maaf, saya telat membaca komentar ini.
saya sependapat dengan Anda. salah satu kesalahan sistem pendidikan di indonesia adalah tidak mengajarkan filsafat ilmu (yang salah satunya adalah filsafat matematika) kepada siswanya. ketika kita sekolah di sekolah dasar, dengan sendirinya kita berfilsafat terhadap bahan ajar yang diajarkan di sekolah karena pemikiran kita masih mampu menalar pelajaran yang diberikan. tetapi saat masuk smp dan sma, pemikiran kita sudah agak sulit menalar sebagian pelajaran yang diterima. akhirnya kita berteori dan menghafal buta.
saya sangat miris melihat kegiatan siswa2 kelas 6 sd, 3 smp dan sma yang mengikuti bimbingan belajar. begitu percaya dirinya bimbingan belajar memberikan jurus2 jitu cara menyelesaikan soal2 tanpa menyinggung dari segi filsafatnya. lebih dari itu, tidak jarang filsafat justru dicemoohkan dan disingkirkan karena stigma yang membuat orang sesat.
sekali lagi terima kasih atas komentar Anda.
salam matematika… salam ilmu…
Yudha P Sunandar
Saptu, 3 Méi 2008 pukul 22:15
Ini yang saya cari2 mas2 semua, filsafat matematika. filsafat matematika adalah semua jawaban mengenai mengapa kita harus belajar matematika. ngapain kita capek2 belajar teori yang njelimet klo tidak tahu aplikasinya. saya pernah beli buku yang membahas tentang filsafat matematika. walau tidak komplit, dengan penjelasan filsafat matematika kita mengetahui ruh dari suatu teorema. akhirnya dengan mengetahui itu kita menyadari bagaimana suatu teorema tumbuh dan kemudian digunakan untuk pemecahan masalah dalam kehidupan kita. artinya matematika ilmu yang aplikatif. contohnya aritmatika yang sangat aplikatif dalam kehidupan dan perdagangan. tapi bagaimana dengan limit, logaritma, diferensial, integral, deret, dan lain sebagainya? banyak yang sudah belajar itu semua tetapi tidak mengerti apa dan mengapa teorema itu dipelajari. pernah belajar itu semua tapi tidak tahu bagaimana menggunakannya. disinilah peran filsafat matematika menjelaskan semua ketidakjelasan dalam dunia matematika.
Salam Matematika
Aspansyahbudin
YM : trhkuberau
aspansyahbudin
Jumaah, 2 Méi 2008 pukul 09:12